thirteen + two =

seventeen + six =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

For Your Information, Only…

Kata-kata makian biasanya akan keluar dari mulut seseorang ketika sedang marah atau mengalami emosi negatif lainnya. Tujuan penyampaiannya bermacam-macam. Mulai dari ingin menyulut emosi lawan bicara, menghina, maupun untuk melampiaskan kekesalan baik dengan atau tanpa kehadiran orang lain.

Dalam bahasa Indonesia, sebagian kata-kata kasar tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Itu pun lazimnya berupa kata-kata netral, namun kemudian dikonotasikan menjadi sesuatu yang negatif (contoh: bangsat, brengsek, anjing, dan sebagainya). Namun selain itu, ada banyak kata-kata makian yang dihasilkan dari budaya tutur serta dipengaruhi beragam bahasa lain, sehingga jamak ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Ada anggapan yang menyebut bahwa kata-kata makian, baik dalam penggunaan atau pembahasan, masuk dalam kategori tabu; menjadi sesuatu yang dilarang secara sosial. Sebab bisa menyebabkan ketidaknyamanan dari pengucapan atau dari makna kata itu sendiri.

Secara umum, ketabuan itu muncul karena tiga hal. Pertama, sesuatu yang menakutkan (taboo of fear), bisa bikin kualat, atau kepuhunan. Kedua, sesuatu yang tidak mengenakan perasaan (taboo of delicacy). Misalnya nama-nama penyakit tertentu, terutama yang mendatangkan malu dan aib, serta mampu menampilkan mental image yang tidak mengenakkan. Terakhir, sesuatu yang tidak enggak santun dan enggak pantas (taboo of propriety). Khusus bagian ini, utamanya berkaitan dengan hal-hal seksual, termasuk bagian-bagian tubuh tertentu dan fungsinya. Juga beberapa kata makian yang semuanya tidak pantas atau tidak santun untuk diucapkan, setidaknya dalam kebiasaan budaya ketimuran.

Selanjutnya, kata-kata yang biasa digunakan untuk memaki dalam berbagai bahasa pada umumnya diambil dari enam golongan:

  1. Yang berkaitan dengan agama atau kepercayaan,
  2. Yang berkaitan dengan kelamin,
  3. Yang berkaitan dengan nama bagian tubuh,
  4. Yang bertalian dengan fungsi bagian tubuh,
  5. Kata-kata yang merupakan sinonim kata “bodoh”,
  6. Nama-nama binatang.

Ehm… Kayaknya tidak perlu dicontohkan lebih lanjut ya. Mending kita ke pembahasan berikutnya, yaitu beberapa kata yang umumnya digunakan orang Samarinda kala sedang KZL dan ingin memaki, untuk memperluas wawasan tentang keragaman bahasa tutur di Nusantara.

Akan tetapi, sebelum kita mulai, ada baiknya untuk dipahami (sebelum kadung heboh di forum tetangga) bahwa Samarinda adalah sebuah melting pot, kota tempat beragam etnis dan dialek berkumpul. Seperti disampaikan dalam artikel perdana yang membahas celetukan, atau fatis, atau pidgin Samarinda, bahasa keseharian di kota ini mendapat banyak pengaruh dari bahasa-bahasa suku lainnya. Utamanya adalah bahasa Banjar dari Kalimantan Selatan (Kalsel), bahasa Kutai, dan sebagainya. Jadi, alangkah lebih arifnya bila dalam konteks ini, Undas.Co menyampaikannya sebagai khazanah budaya linguistik yang beredar di Samarinda.

Baiklah, langsung saja. Berikut ini adalah sepuluh di antaranya.

  1. Bungul

bungul

Jangan keburu happy dulu deh kalo ada orang bilang gini sama kamu. Sebab kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah bodoh atau idiot.

Kata ini berasal dari bahasa Banjar, dan termasuk yang paling populer dan sering disampaikan. Saking seringnya, sampai-sampai efek dari pengucapannya sangat bergantung dari ekspresi dan kesan si penutur.

  1. Bonto’

bonto

Menggunakan tanda petik tunggal atau apostrof di akhir kata, menunjukkan bahwa pengucapannya menghadirkan kesan konsonan “k” yang tipis. Kata ini umumnya digunakan untuk menandai telur yang busuk, seperti dalam frasa “hintalu bonto’” atau telur busuk. Hanya saja, seperti dalam bahasa Indonesia pada umumnya, bonto’ sebagai makian kepada seseorang bukan menunjukkan adanya sesuatu yang kedaluwarsa, tidak dierami, atau membusuk layaknya proses biologis alamiah, melainkan sesuatu yang meleset, mengecewakan, dan mengesalkan.

  1. Tambuk

tambuk

Kurang lebih memiliki makna yang sama dengan bungul, kata ini juga digunakan untuk mewakili kebodohan, sikap yang kolokan dan udik, maupun dungu. Apabila ada di antara kamu yang bisa menambahkan spektrum makna kata ini, silakan berbagi.

  1. Buntat

buntat

Kalau yang satu ini, penjelasannya memang agak panjang ya. Di satu sisi, buntat bisa disederhanakan pula sebagai bodoh. Namun berbeda dengan bungul yang jelas-jelas berarti bodoh, atau tambuk yang cenderung menggambarkan kedunguan, pada dasarnya buntat masih memiliki sedikit kesan iba. Kasihan dengan kebodohan seseorang, tapi tetap mengesalkan.

Begini gambarannya. Dalam pengucapan keseharian, buntat juga bisa digunakan untuk mewakili sesuatu yang buntu, tidak efektif, atau gagal. Misalnya ketika ada petasan yang tidak meledak setelah disulut, berarti petasan itu buntat baik lantaran masalah pada sumbu, atau pada sambungan antara sumbu ke cadangan mesiu.

Pada konteks yang berbeda, buntat juga mewakili ulir rumah bekicot, siput, keong, atau binatang bercangkang luar. Mengapa begitu? Karena ulir rumah keong yang mengerucut tidak berlubang, sehingga tidak bisa ditiup alias buntu. Itu sebabnya, bagi sebagian orang, makian buntat bisa dilengkapi menjadi “buntat haliling”. Sementara haliling sendiri adalah sejenis keong kecil, yang berkerabat dengan tutut maupun keong sawah (Pila ampullacea), dan konon juga digemari sebagai bahan masakan tertentu.

Selain itu, juga pernah terlontar ungkapan buntat buras. Hanya saja, belum ada penjelasan yang memadai soal penambahan kata buras–ya, penganan semacam lontong yang dibungkus daun itu–dengan kata buntat.

Ini dia, haliling. Foto: pllbfmipaunlam.wordpress.com

  1. Pehol

pehol

Untuk kalian yang mengalami tren rambut catok di masa remajanya, mungkin akan familier dengan kata serapan bahasa Inggris ini. Kata pehol adalah plesetan. Iya, plesetan. Minta tolong sama setan, gitu. Pleeeasee setaaaaan… *krik*

Skip.

Oke.

Fokus.

Pehol ini plesetan dari pee hole. Tahu kan maksudnya? Alias lubang pipis. Ya, kelamin lah.

     6. Hali

hali

Nah, kata ini berasal dari bahasa Kutai. Meskipun popularitasnya tidak seterkenal kata nomor 1 sampai 4, namun tetap banyak juga digunakan orang Samarinda, secara terbatas.

Dalam bahasa Kutai, hali berarti gila. Penggunaannya pun dibarengi dengan kata seru bahasa yang sama. Seperti “hali beneh” (gila banget); “kanak hali” (anak/orang gila); dan sebagainya. Sesederhana itu. Udah.

  1. Gonggong

gonggong

Ini bukan suara anjing, atau cara anjing bersuara. Kata gonggong dipakai untuk menghardik orang lain karena kebodohannya. Masih 11-12 dengan kata nomor 1 dan 3, dan relatif kerap digunakan penutur bahasa Banjar.

Hanya saja, ada teori yang menyebut bahwa kata ini disadur dan diturunkan dari bahasa Tionghoa, terutama dialek Guangfu (Khonghu), maupun Fujian (Hokkian). Sebab dalam dua dialek tersebut, juga digunakan tuturan gong maupun ngong untuk menyebut bodoh pemikiran dan perilakunya. Sebutan ini juga memiliki akar yang sama dengan kata berikutnya, yaitu…

  1. Telengong

telengong

Sebutan ini barangkali terdengar agak asing, tapi tidak sedikit orang Samarinda (maupun orang Kalimantan secara umum, biar tidak merajuk) yang pernah mendengarnya minimal sekali seumur hidup.

Apabila dipadankan ke dalam bahasa Indonesia, telengong cukup diterjemahkan menjadi bodoh sekali. Namun kita bisa mendapatkan gambaran yang yang komprehensif, bila menyandingkannya dengan bahasa Jawa tutur. Yakni “plonga-plongo”, “lola’-lolo’”, dan sejenisnya dengan melibatkan ekspresi wajah yang clueless.

Khusus soal kata ini, lagi-lagi ada teori yang menyebutkan bahwa telengong diambil dari istilah serupa dalam bahasa Tionghoa dialek Fuqing (Hokcia): taraengong yang mengalami perubahan lafal pada konsonan “r” menjadi “l”. Hanya saja dalam bahasa ini, taraengong berarti idiot yang bodoh sekali. Ada indikasi rendahnya kecerdasan objek penderita.

  1. P*kiayam

kiayam

Boleh dibilang ini merupakan makian paling kasar nomor dua di Samarinda. Bisa jadi, saking kasarnya, sebutan ini sudah jarang digunakan kaum muda. Kebanyakan, penuturnya saat ini adalah orang tua, atau golongan lansia.

Sebutan ini sengaja ditulis sebagai satu kata tunggal, lantaran pemaknaannya yang begitu jauh, atau kurang nyambung dibanding benda aslinya. Bila kita pecah menjadi dua kata, frasa di atas berarti kelamin ayam. Lalu entah bagaimana ceritanya, dijadikan makian ketika kesal dalam intensitas tinggi.

  1. Kimaknya

kimaknya

Ini dia, umpatan yang paling lethal dibanding yang lain. Menyangkut organ paling sensitif, dan figur paling sakral dalam sebuah keluarga. Berbeda loh ya, dengan kerang kima yang jadi doyanan sebagian orang.

Saat dituturkan, istilah ini kurang lebih bermakna “curse on Your mother’s c*nt (for birthing You)!” Itu sebabnya, kata ini merupakan paling tabu di antara yang lain, dan benar-benar diutarakan untuk menghina habis-habisan lawan bicara.

Sekadar informasi, pengucapan seperti ini lumayan merata di seluruh Indonesia, dengan beda pada logat maupun intonasi. Khususnya dalam ranah bahasa Melayu. Pun bagi penutur bahasa Kutai, umpatan ini bahkan jadi satu kalimat sederhana. Lebih jauh lagi, dalam budaya tutur bahasa Tionghoa modern dan bahasa Inggris pun, juga ada serapahan yang serupa.

Kendati begitu, ada turunan lain dari kata ini, yang membuatnya terasa agak “ringan”. Seperti kimbonya, kimbenya, dan kimprut.

Selain sepuluh kata di atas, sebenarnya ada beberapa kata lain yang kerap dilontarkan orang Samarinda untuk mewakili keadaan tertentu, juga berasal dari bahasa Banjar maupun bahasa Kutai. Tetapi tidak dikategorikan sebagai makian, melainkan ungkapan keras saja. Seperti mucil yang diartikan sebagai sikap bebal atau bandel. Juga ada celetukan lopad dari bahasa Kutai, yang sering disalahpahami sejajar dengan kata brengsek, tapi bagi sebagian orang lebih pas diartikan sebagai sialan atau frasa “aduh-aduh…

Kata makian hanya akan membuat orang lain menjadi marah atau merasa terhina, bila yang bersangkutan hidup dalam kebudayaan dan lingkungan kepercayaan yang sama. Yakali ngomong bungul ke Tom Morello, bukannya marah mungkin dia bakal senyum-senyum karena enggak ngerti.

Sementara itu, sebagai disclaimer, artikel ini dihadirkan bukan untuk mendorong atau menyemangati kamu semua lebih aktif mengumpat atau memaki. Melainkan menunjukkan sekelumit dari kekayaan budaya bahasa Nusantara yang ada, khususnya di Samarinda. Toh, di sisi lain, makian kerap dimaknai sedangkal-dangkalnya hanya sebagai kata-kata kotor dan kasar. Juga disampaikan dengan tujuan untuk mengobarkan emosi lawan bicara. Padahal, apabila kita paham maknanya yang netral, kemudian bersikap datar saja, makian tadi bakal jadi “peluru letoi” yang meleset tak mengenai sasaran. Menang di kita. 😀

When angry, count to four. When very angry, Swear” – Mark Twain.

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Related Articles

The following two tabs change content below.
Pramesti Krisna

Pramesti Krisna

There are a lot of things I wish I would have done, instead of just sitting around and complaining about having a boring life - Kurt Cobain
Pramesti Krisna

Latest posts by Pramesti Krisna (see all)

Comments

comments