11 − nine =

2 × three =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Mengapa Oh Mengapa…

Jujur deh, sebagai warga Samarinda meskipun kita hidup dalam kedamaian, namun dari lubuk hati yang terdalam mengganjal beberapa pertanyaan klasik yang malas untuk dicari jawabnya. Pertanyaan Retorik. Begitu istilahnya. Tidak perlu dijawab karena memang tidak ada jawabannya. Mau protes, tapi ya sudahlah. Menjadi biasa karena Terbiasa.

Disini penulis mencoba merangkum beberapa hal yang secara personal sering timbul di kepala manakala menatap kehidupan sehari-hari warga sekitar. Dari mulai hal yang sangat simpel dan sepele, sampai yang berdampak pada hajat hidup orang banyak. Yah namanya kritis, boleh-boleh aja dong. Baiklah kita mulai satu persatu.

1. Mengapa Harus Tercipta Parkiran Layaknya Gasing, Sempit dan Suram di Plaza Mulia?

Mall-nya Keren, Parkirannya Melingkar. Photo: commons.wikimedia.org

Mall-nya Keren, Parkirannya Melingkar. Photo: commons.wikimedia.org

Sudah pernah ke Plaza Mulia dan naik ke parkiran mobilnya? Bagaimana rasanya? Parkiran Plaza Terbesar Di Samarinda ini memang terbilang agak ribet. Pertama, jalurnya menanjak. Kedua, berputar 360 derajat seperti spiral. Ketiga, sempit. Keempat, gelap. Kalau yang tidak lihai dalam mengendarai mobil, pasti rada kagok. Tidak jarang bagian ujung bemper kendaraan akhirnya pasrah menyerempet dinding hingga bodi mobil jadi lecet. Duh Apes. Belum lagi efeknya secara mental. Sebelum naik kita sudah tarik nafas panjang terlebih dahulu, 10 detik pertama oke, masih fokus. 30 detik berikutnya mulai terasa seperti terjebak di labyrinth yang tak berujung. 1 menit, Oh no! Pusing dan mual mulai menyerang, mulai ngga tahan. Kapan sampainya sih? Duuuhh, betul-betul deh kenapa sih buat parkiran yang kayak gini!?

2. Kok Pelajar Naik Motor Tidak Ditilang Polisi?

Kebal Tilang

Kebal Tilang

Sudah jelas-jelas pakai seragam SMP atau SMA. Naik motor tidak pakai helm, Bertemu polisi di perempatan jalan, tapi kok nggak di stop Polisi ya? Mungkin bapak Polisi di Samarinda terlalu baik dan menjunjung nilai toleransi. Harus memaafkan satu sama lain terutama kepada anak-anak sekolah. Sampai-sampai tidak tega menilang karena khawatir para pelajar akan terlambat masuk sekolah kemudian disetrap sama gurunya. Tapi apa gunanya peraturan kalau begitu? Anak-anak dibawah umur ini sudah pasti belum mengantungi ijin berkendara atau SIM. Apalagi keahlian mengendarai motor? Selain beresiko buat sang pengendara, juga berbahaya loh untuk pengguna jalan yang lain. Sudah sering kita lihat amor-amor yang naik motor kebut dan ugal-ugalan bikin jantung mau copot. Bikin Kesal ! Pengendaranya pasti anak abege!

3. Ngapain Sih Amor Ini Ngobrol sambil Naik Motor di Jalan Raya?

Ngobrolin Bisnis Pulsa kayaknya nih

Ngobrolin Bisnis Pulsa kayaknya nih

Pernah lihat nggak ada dua motor bergerak beriringan di tengah jalan, terus pengendaranya ngobrol sambil cekikikan? Sumpah itu gengges abis! Apalagi buat kita yang sedang mengemudi di belakangnya. Selain gregetan karena menghambat laju kendaraan, bukankah tindakan seperti ini membahayakan ? Kadang-kadang bikin hilang kesabaran tapi kita Cuma bisa ngedumel dalam hati. Kenapa juga nggak berhenti di warung kopi terus ngobrol dengan leluasa tanpa harus teriak-teriakan di jalan dengan motor yang terombang-ambing ke kanan dan ke kiri ? Sungguh Aneh!

4. Pedagang Koran Atau Tukang Minta-Minta?

Pengen banget liat yang di dalem

Pengen banget liat yang di dalem Photo: Detik

Nah kalo yang ini judulnya jebakan Batman. Di beberapa simpang lampu merah sering kita temui anak-anak berjualan koran. Mencari rejeki apapun bentuknya asal halal, sah-sah saja. Cuma, ada beberapa hal yang agak ajaib disini. Pertama, entah kenapa mereka suka mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil. Kedua, kalau kaca mobilnya gelap, wajah mereka ditempelkan ke kaca sambil mengintip-ngintip ke dalam mobil. Buat yang duduk di kursi supir, melihat wajah yang tiba-tiba melekat dengan jarak 5-10cm sepertinya agak mengganggu, mengagetkan, bahkan cenderung horror ya. Mau ditegur kasian, soalnya masih anak-anak. Tidak ditegur nanti malah jadi kebiasaan. Lucunya lagi, kadang ketika kita membeli koran, begitu sudah memberi uang dia bilang “Terima Kasih Bu” lantas ngeloyor pergi. Loh! Heeeyyyy!!?? Korannya nggak dikasih! Ini anak jualan koran atau tukang minta-minta?

5. Penunjuk Jalan “Belok kiri boleh langsung” Tidak Berlaku Di Semua Lampu Merah Ya?

Belok Kanan, Diem Dulu. Photo: Hipwee

Belok Kanan, Diem Dulu. Photo: Hipwee

Aturan di Samarinda itu semakin kesini semakin Absurd. Entah karena terbentuk dari kebiasaan atau mungkin terjadi konsensus secara tidak langsung. Misalnya, soal tata tertib rambu lalu lintas. Di beberapa perempatan atau pertigaan ada spot-spot dimana pengendara bisa menjadi sangat tertib, namun di spot yang lain, orang-orang bisa melanggar peraturan tersebut seenak udel seperti sudah lumrah. Contohnya, kalau di simpang air putih Jalan Antasari mengarah ke Juanda dan MT Haryono, plang “belok kiri boleh langsung” tidak berlaku. Tetap saja ada kendaraan yg stop di sisi kiri padahal mereka hendak jalan terus. Pengendara lain yang hendak ke kiri yang seharusnya bisa jalan terus mau tidak mau ikut antri di lampu merah. Tidak ada yang sewot, atau marah-marah, Santai saja. Lain cerita kalau di Jalan Agus Salim. Coba saja berhenti di sisi kiri. Sudah pasti habis diklakson orang disuruh maju terus. Kalau kita keukeuh berhenti, mungkin orang-orang di belakang tidak sungkan untuk turun menghardik sambil bawa clurit. Seakan-akan kejadian ini semacam pelanggaran berat. Lalu timbul pertanyaan. “Loh kok kalo disana boleh, kenapa disini nggak?”

6. Mengapa Pejabat Harus Narsis di Baliho Sepanjang Jalan?

Manis Pak Senyumnya.

Manis Pak Senyumnya.

Bagi pendatang atau wisatawan yang berkunjung ke Samarinda barangkali akan terpana melihat deretan baliho foto-foto orang tak dikenal tampil di sepanjang jalan. Baliho, spanduk memang media komunikasi untuk sosialisasi dan promosi yang efektif. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, Kenapa harus selalu ada foto pejabat yang bersangkutan ? Kalau sedang kampanye mungkin lain soal, karena memang dimaksudkan agar masyarakat bisa lebih mengenal tokoh yang menjadi calon pemimpin mereka. Tapi kalau Iklan Layanan Masyarakat, sosialisasi program dan peraturan baru, bukankah akan lebih efektif kalau materi yang disampaikan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan ? Dari sudut pandang skala prioritas, kita jadi mendapatkan kesan bahwa apa yang tertulis bukanlah perhatian utama. Melainkan, siapakah tokoh yang terpampang disitu? Kalau sudah terlalu banyak foto yang sama kita lihat lagi dan lagi, jatohnya jadi Narsis bukan? Kalau memang senang meng-upload foto, Haruskah kita sarankan beliau-beliau ini untuk bikin akun Instagram atau Facebook saja?

7. Mengapa Betah Tinggal Berhimpitan Padahal Tanah Kosong Di Samarinda Masih Luas?

Berhimpit

Berhimpit

Sering lihat pemukiman padat di beberapa gang di Samarinda? Rumah kecil berhimpitan satu sama lain sampai tidak tahu lagi mau taruh kaki dimana. Jalan yang seharusnya muat mobil jadi seperti jalur tikus karena badan jalan tersita oleh motor yang parkir dan tiang jemuran. Kenapa warga Samarinda senang hidup tumpang tindih padahal kalau mau agak bergeser sedikit, masih banyak tanah kosong dengan harga murah? Bukankah dengan begitu, warga justru bisa membangun tempat tinggal yang lebih layak? Dari segi estetika dan tata kota pasti akan lebih indah. Apa karena malas pindah ke lingkungan baru? Atau enggan tinggal lebih jauh? Padahal kalau dibilang jauh pun, tidak akan jauh – jauh amat. Kita tidak kekurangan tanah kosong, dan andaikan mau melipir sedikit, sepetak tanah di tengah kota bisa ditukar dengan sebidang tanah luas di wilayah lain.

8. Mengapa Samarinda Rawan Banjir Padahal Sungainya Besar dan Daerah Resapan Banyak ?

Udah Biasa photo: fisioterapisamarinda.com

Udah Biasa photo: fisioterapisamarinda.com

Kurang besar apa sungai Mahakam yang melewati Samarinda ini. Luar biasa luas seakan seperti laut. Sesuai dengan fungsi dasarnya, sungai atau kali adalah tempat bermuaranya air yang berada di daratan agar terus mengalir ke lautan. Nah kalo di Samarinda ada yang aneh. Bila musim penghujan tiba, beberapa titik di Samarinda dilanda banjir bisa mencapai selutut. Kalau dibilang faktor lingkungan, banjir ini sudah terjadi sejak puluhan tahun silam ketika Samarinda belum sepadat sekarang. Harusnya semakin besar sungai yang melewati kota, semakin besar daya tampung air. Tapi tetap saja air menggenang di mana-mana. Oh ya, ada sebuah pameo bahwa nama Samarinda itu bisa diasosiasikan dengan “Sama Rendah”. Maksudnya, sungai dan daratan sama rendahnya. Bagaimana menurut kalian?

9. Mengapa Samarinda Selalu Terancam Kekurangan Pasokan Listrik Padahal Kalimantan Adalah Lumbung Energi ?

Gotham kah ini? photo: Tribun Kaltim

Gotham kah ini? photo: Tribun Kaltim

Semua orang tahu kalau tanah yang kita pijak ini berisi kandungan batu bara yang merupakan sumber energi. Logikanya harusnya Kaltim nggak bakalan kekurangan energi. Lah wong sumbernya disini. Tapi kenapa Samarinda ini langganan listrik padam ya? Kalo kata pejabat yang berwenang, hal ini dikarenakan pasokan listrik yang menipis. Selalu jadi pertanyaan klasik semua orang. Lalu kemanakah larinya batu bara-batu bara yang tidak hentinya dikeruk dari tanah kita? Siapa yang menikmati hasil bumi Kalimantan? Kenapa pemerintah daerah tidak membuat pembangkit sendiri yang bisa mencukupi kebutuhan listrik paling tidak buat warganya sendiri?

10. Olok-olok Kota Samarinda di Social Media Dikeroyok Massa, Sedangkan Maling Dibiarkan Kabur. Kok Bisa?

Habis Disantap photo: Kompas

Habis Disantap photo: Kompas

Wah, kalo yang ini lagi hangat-hangatnya dan jadi fenomena banget. Samarinda baru saja dihebohkan oleh berita seorang pria pendatang yang habis dihajar massa karena mengupdate status facebook yang isinya dikatakan “menghina” Samarinda. Padahal kalau dipikir-pikir banyak diantara kita yang suka berkomentar buruk tentang Apa dan Siapa saja di sosmed. Kalau dilihat dari sudut pandang bijaksana, seharusnya congor mulut tidak perlu ditanggapi karena orang-orang semacam provokator memang kerjanya memprovokasi dan cari-cari perhatian. Kalau sebagai warga akhirnya terpancing emosi akibat kata-kata dari mulut seseorang sampai melakukan tindakan kekerasan secara massal, secara hukum para “Pembela Samarinda” ini yang malah justru berpotensi terancam hukuman pidana. Blunder kan? pertanyaannya adalah, kalau barisan “Pembela Samarinda” ini bisa dengan hebatnya melacak “Penghina” Kota Samarinda sampai dihakimi secara langsung, kenapa belum pernah terjadi masyarakat bergotong-royong untuk menangkap pelaku kejahatan semisal maling, jambret yang justru jauh lebih meresahkan? Atau malah bergerak bersama untuk melawan preman lokal yang mengganggu? Bingung kan?

Nah Kamu bisa bantu ngejawab 10 pertanyaan diatas? Yuk kita diskusikan di kolom komen!

DISCLAIMER! 10 pertanyaan diatas tidak bersifat menyerang pihak tertentu melainkan untuk membangun sebuah diskusi yang sehat dan mencerahkan. Pandangan penulis merupakan opini dari yang bersangkutan dan tidak sepenuhnya mencerminkan pandangan dari seluruh tim undas.co.

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.

Comments

comments