sixteen + 3 =

5 × 5 =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Berlangsung Sabtu Pekan Lalu

Bila mendengar kata bakcang, mungkin tidak semua dari kamu yang tahu apa itu. Namun berbeda dengan istilah perahu naga atau Dragon Boat, yang pasti lebih diakrabi semua orang. Apalagi dalam penyelenggaraan Festival Mahakam di kota ini selama beberapa tahun terakhir, dilangsungkan kompetisi dayung perahu naga di Sungai Mahakam.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ternyata sebutan bakcang sudah dibakukan sebagai bacang, yang didefinisikan sebagai penganan serupa lontong dari beras ketan yang diisi daging. Kalau dibayang-bayangkan, berarti bacang seperti lemper, kan? EhmTechnically, yes.

Bacang. Foto: tutextiles.com

Pada dasarnya, bacang adalah makanan Tionghoa yang relatif ringkas. Terdiri dari nasi ketan beserta lauknya. Namun berbeda dengan lemper yang berbentuk silindris, bacang memiliki bentuk mirip limas empat sudut. Berbeda dengan lemper yang didalamnya berisi daging ayam cincang, isi bacang relatif komplet. Dalam versi aslinya, sebutir bacang seukuran kepalan tangan pria dewasa berisi lauk daging babi, kacang tanah, serta kuning telur asin. Bisa juga ditambahkan jamur. Semua lauk itu dijejalkan di bagian tengah bacang, untuk kemudian “dikubur” dengan beras ketan. Semuanya terbungkus dua (atau tiga) helai daun bambu, kemudian direbus hingga matang. Kini, sudah banyak tersedia bacang yang halal dengan isi daging ayam. Termasuk di Samarinda, dijual di salah satu bakery.

Lalu, apa hubungan antara bacang dan perahu naga?

Turnamen perahu naga. Foto: scmp.com

Tahukah kamu, kalau setiap tahunnya selalu ada Dragon Boat Day atau hari Festival Perahu Naga dalam kebudayaan Tionghoa? Selain perahu naga, bacang menjadi komponen yang tak terpisahkan dari perayaan tersebut. Bahkan di Samarinda sendiri, lebih mudah menemukan bacang ketimbang perahu naga yang dikayuh khusus untuk perayaan ini. Itu sebabnya, dalam beberapa dekade terakhir, warga Tionghoa Samarinda lebih akrab menyebutnya sebagai Hari Bacang. Untuk tahun ini, Hari Bacang telah berlangsung Sabtu (20/6) pekan lalu, saat matahari tengah terik-teriknya. Dalam bahasa aslinya, perayaan ini disebut Hari Duanwu, harfiahnya berarti hari kelima.

Berdasarkan legenda, cikal bakal bacang dan perahu naga berasal dari kisah yang melatarbelakangi berlangsungnya perayaan ini. Saking besarnya pengaruh perayaan ini, sampai-sampai disebut sebagai salah satu hari besar dalam kebudayaan Tionghoa selain rangkaian Tahun Baru Imlek, Qing Ming atau Festival Ziarah Makam, serta Festival Purnama Musim Gugur atau Festival Kue Bulan.

Adalah Qu Yuan, salah satu menteri sekaligus sastrawan dan ahli seni di Kerajaan Chu, pada masa-masa peperangan antarkerajaan. Ia lahir pada 343 SM di wilayah yang kini merupakan Provinsi Hubei. Ia merupakan salah satu patriot, yang mengerahkan jiwa raganya demi Tanah Air. Hingga suatu ketika, kerajaannya dipimpin oleh kaisar yang korup, lalim, tidak bijaksana, dan zalim terhadap rakyatnya. Ia pun mengasingkan diri dari Ibu Kota, pindah hidup ke pedesaan. Tapi akhirnya Tanah Air yang ia cintai jatuh dan dikuasai kerajaan lain. Keadaan ini membuatnya depresi, dan mendorongnya bunuh diri dengan cara tenggelam di Sungai Miluo.

Penduduk desa dan fellow countrymen yang terkejut dengan kabar bunuh dirinya Qu Yuan ini pun berusaha untuk segera menyelamatkan, atau setidaknya menemukan jasad Qu Yuan agar dapat dimakamkan dengan patut, selayaknya seorang bijak yang berbudi terpuji. Demi menghindari agar jasad Qu Yuan tidak dimakan ikan-ikan sungai, para penduduk desa pun mencemplungkan gumpalan-gumpalan nasi ke sungai. Selain itu, mereka juga menggunakan perahu dengan hiasan kepala naga di ujung depan kapal, dibarengi dengan pemukulan tambur. Tujuannya tentu agar membuat ikan-ikan menjauh dari titik sebar kapal-kapal tersebut.

Bisa ditebak, kan? Kepalan nasi itu lambat laun berubah menjadi makanan khas yang dimakan setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek, hari ketika Qu Yuan menceburkan dirinya ke sungai. Dari sekadar kepalan nasi berubah menjadi bacang yang lengkap dan lezat. Begitupun juga dengan perahu naga, menjadi atraksi spesial di hari itu. Tradisi yang berjalan sejak saat itu adalah, warga Tionghoa mempersembahkan bacang di altar-altar leluhur, serta mencemplungkan satu atau dua butir bacang dalam kondisi terbuka ke sungai. Hal itu juga masih dilakukan di Samarinda, karena memiliki Sungai Mahakam yang sebegitu luasnya. Bahkan pernah beberapa kali, pembuangan bacang dilakukan di kawasan perairan dekat muara.

Buang bacang ke Sungai Mahakam. Foto: Penulis (2009)

Buang bacang ke Sungai Mahakam. Foto: Penulis (2009)

Di sisi lain, tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek (atau sehari setelahnya), merupakan momen astronomi bernama Summer Solstice. Dampaknya di Indonesia maupun negara-negara sub tropis lainnya adalah siang hari yang sangat panas. Salah satu atraksi yang kerap dilakukan saat ini adalah mendirikan telur dari ujung lancipnya. Dipercaya, hanya di momen tengah hari pada Summer Solstice, telur-telur tersebut bisa berdiri sempurna. Dan berhasil. Sehubungan dengan cuaca yang sangat panas juga, bacang yang sebagian besar adalah ketan kukus dan tetap lezat disantap saat kondisinya dingin, dipercaya dapat menurunkan suhu tubuh. Juga dengan atraksi perahu naga, ketika banyak orang dekat-dekat dengan air dan diharapkan bisa merasa sejuk.

Telur-telur pun bisa berdiri. Dipercaya karena momen Summer Solstice. Foto: Penulis (2009)

Telur-telur pun bisa berdiri. Dipercaya karena momen Summer Solstice. Foto: Penulis (2009)

Dengan ini semua, tidak heran apabila Hari Bacang merupakan salah satu perayaan yang sangat ditunggu-tunggu warga Tionghoa di Samarinda, dan di mana saja. Karena akan sekali lagi bertemu dengan makanan khas. Kendati di kota ini, sudah ada yang menjual bacang secara berkala, meskipun masih dalam hitungan jari.

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Dragono Halim

Dragono Halim

Writer at Undas.Co
"Dragono Halim. Just Google it."

Comments

comments