three × four =

1 + six =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Judul album :

Carrie & Lowell

Artist:

Sufjan Stevens

Label:

Asthmatic Kitty Records

Rilis:

31 Maret 2015

Genre:

Indie Folk, Indie Pop

Sufjan_Stevens_-_Carrie_&_Lowell

Kembali mengeluarkan album dengan aroma folk yang dipenuhi obituari sosok sang ibu. Sufjan Stevens, yang ‘menang banyak’ ketika Illinois dirilis tahun 2005 dan dianggap sebuah breakthrough. Tipikal bedroom musician yang cerdas memberi sentuhan personal di setiap karyanya. Menuangkan aktivitas keseharian dan reportase yang detail tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Pitchfork punya kecenderungan memberi ulasan yang positif untuk wonder boy kelahiran Michigan ini, secara personal hal itu memang tak dapat ditampik. Menjajarkan dengan bintang sekelas Elliot Smith dan Bon Iver, karya Stevens ini punya potensi untuk menjadi sosok Goliath di tangga lagu dunia. Pun di album sebelumnya Age of Adz, yang bereksperimen di elektronik banyak mendapat ulasan yang positif dari para kritikus.

Sufjan Stevens Carrie & Lowell tour 2015. Foto: oslomonsoon

Sufjan Stevens Carrie & Lowell tour 2015. Foto: oslomonsoon

Carrie & Lowell (C&L) adalah sebuah senandung kedukaan selama 44 menit. Komposisi bedside voice yang penuh dengan suara lirih, petikan banjo, dawai gitar yang minor, serta piano yang menggantung dengan tempo nan lamban. Dikerjakan di studio yang berlokasi di kediamannya, Stevens bertutur tentang ekspresi emosional setelah kematian Ibu-nya, ekspresi jujur seorang anak berusia 39 tahun. C&L terdengar seperti karya yang digodok di gua pengasingan di mana Stevens menghapus jejak duka dan memberikan renungannya kepada dunia untuk dinikmati secara masif. Banyak jejak warna vokal yang berbaur dengan isak tangis seperti di ‘Blue bucket of gold’, ‘Should have known better’, ‘No shade in the shadow of the cross’, dan ‘Fourth of July’. Kali pertama mendengarkan ‘Fourth of July’ langsung mengingatkan kesenduan ‘Mad World’ versi Gary Jules dan sinema Nihilis donnie Darko.

“The evil had spread/Like a fever ahead/It was night when you died/My firefly.”

Mendengarkan C&L tidak melulu soal menjadi gloomy. Di tengah lirik yang banyak bercerita soal duka, memori masa lampau, penyesalan, kekhawatiran, dan putus asa. Sufjan Stevens mengajak pendengarnya untuk larut sejenak dalam pahitnya ditinggalkan dan kemudian menjadi optimis tentang harapan yang positif. Lirik yang depresif sekalipun dapat dibawakan dengan sentuhan folk yang tentram, tanpa terjebak pada emosional yang cheesy.

Dengarkan Carrie & Lowell di beranda yang berangin, sembari membaca kumpulannya liriknya ditemani dengan secangkir minuman hangat. Temukan pengalaman baru menjelajah denting banjo yang lantang menyuarakan “What’s the point of singing songs/If they’ll never even hear you?”.

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Alfian Meidianoor

Alfian Meidianoor

Editor in Chief at Undas.Co
Cat buff yang tertarik dengan semua hal yang berkaitan dengan gothic romanticism, benda langit dan fisika modern, zombie apocalypse, rilisan analog dan skena D.I.Y yang lebih aktif.

Comments

comments