one × 4 =

fifteen − 11 =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

A Part of 90’s Life

Juli adalah International Zine Month, dan 21 Juli adalah International Zine Library Day. Nah, kalo di beberapa kota lain mungkin akan ada festival Zine sebagai selebrasi untuk International Zine Month. Tempatnya banyak Zine Maker dan pembaca Zine ngumpul jadi satu. Well, mungkin beberapa dari kalian sudah mengenal apa itu Zine, tapi enggak ada salahnya kan kalo kita mau berbagi informasi.

Zine, sebuah media alternatif nonkomersial/nonprofit yang dipublikasikan sendiri oleh penulisnya. Dikerjakan secara nonkonvensional, enggak ada deadline yang mengikat, tata bahasa yang seringnya enggak baku, menggunakan layout yang sebisanya dan diproduksi (biasanya) melalui proses fotokopi atau cetak sederhana. Dalam hal ini sirkulasi Zine juga terbatas. Zine seringnya enggak dijual, kalaupun dijual harganya hanya sebatas harga fotokopi. Sementara di kalangan para pembuat Zine berlaku sistem trade/barter Zine atau iklan Zine. Jadi kalau “Magazine” berhubungan dengan hal-hal seperti komoditas, sementara “Zine” berhubungan dengan informasi, saja. Sesuai genre yang diminati pembuatnya masing-masing.

Kebanyakan Zine pada umumnya nonprofit, bahkan biasanya lebih banyak menghabiskan uang dibanding balik modal. Ya, anggap saja ini adalah proyek merugi yang menyenangkan, tapi pada dasarnya Zine adalah produk amatir (bukan berarti enggak bagus ya). Lazimnya, Zine adalah sebuah representasi seseorang tentang dirinya, komunitasnya dan hal-hal lain yang terkait.

Kalo cakupannya dunia, ada yang namanya “Maximum Rock n’ Roll” atau MRR, yang kayaknya merupakan Punk Zine tertua di dunia. Setiap bulan, Zine ini memberikan info Zine Hardcore mancanegara dan manca-budaya. Tim Yohannon, biasa dipanggil Tim Yo, mengkoordinasi hampir lebih 70 kontributor dan sukarelawan yang disebut “The Shitworkers”.

Sebenarnya, bentuk komunikasi tertulis macam ini sudah ada sebelumnya, cuman nggak terlalu signifikan berbentuk Zine dan lebih banyak berupa newsletter seperti newsletter sastra, seni rupa, underground music, dan agama. Tapi memang jangkauannya hanya terbatas pada sebuah komunitas saja. Pendistribusian Zine-Zine lokal sangat bergantung pada komunitasnya. Seperti Underground Zine yang didistribusikan lewat distro atau mail order, Game Zine pada counter game rental, atau toko buku nonprofit seperti pasar buku. Tapi karena Zine sangat terbatas, maka pendistribusiannya enggak bisa mencakup wilayah besar. Di Indonesia, karena nggak terbiasa mengungkapkan opini sejak dini, perkembangan Zine sebenarnya agak lambat kalau dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya. Malaysia dan Singapura misalnya. Mereka punya Zine-Zine Underground keren dan kadang diproduksi remaja umur 12-17 tahun. Akan menyenangkan sekali ngeliat anak SMP-SMA bikin Zine yang berisi hal-hal yang mereka sukai. Hal semacam ini bisa membantu perkembangan kreativitas, apalagi pembuatan Zine terbilang gampang banget. Dari pake tulisan tangan sampai layout komputer.

Kalo kita lihat sejarahnya, Zine masuk ke Indonesia hampir bersamaan dengan masuknya musik punk sekitar awal 90-an, karena Zine pada waktu itu memang identik dengan musik punk. Tetapi Zine bikinan anak Indonesia mulai ada sekitar akhir 90-an, yang masih berkutat di scene musik hardcorepunk, atau politik yang masih berhubungan dengan hardcorepunk juga.

Sebut saja Zine-Zine seperti dari Bandung. Ada “Tiga Belas Zine (bikinan Arian 13, Seringai), “Membakar BatasdanGandhi Telah Mati (Ucok Homicide), “Brainwashed” (Wendy-Rollingstone Indonesia), dan lainnya. Baru kemudian di awal 2000-an muncul Zine-Zine yang lebih variatif dan bersifat lebih personal seperti “Rebellioussickness” (Zine musik dalam perspektif personal), “Eve” (mengulas indiepop), “Akal Bulus” (curhat), “Puncak Muak” dan “Setara Mata” (Ika Vantiani), “Vandal Boarder” (Zine skateboard, Bandung), “Pingsan” (Semarang), “Mati Gaya” (mengulas ide-ide tentang suicide dan agnosticism), dan masih banyak lagi.

Di Samarinda juga pernah bermunculan beberapa Zine yang mungkin sudah pernah kalian baca. Ada “Mandau Riot”, “Damaged”, “Confused”, “Illuminer” (Rhesa, yes that name You know), “Prosan Letter”, “PerkosaKata” (Ula), “Skitfull Youth”, “WordMachines”, dan lainnya yang mungkin nggak terekam penulis. But, where are they now?

S__2940953 S__2940948 S__1908853 S__1908846

Jelas, masa depan kultur Zine akan lebih baik jika ada regenerasi, minimal agar aktivitas Zine di Samarinda nggak mati. Harapannya, akan ada pelaku Zine yang concern menularkan hobinya kepada generasi muda, bahkan kalo mau ke anak kecil. Nggak salah dong kalo kita menganggap hal ini adalah sebuah ide bagus dan menarik, karena dengan bikin Zine, kreativitas seseorang bakal muncul dan terasah. Nggak bisa dimungkiri, konten-konten dalam sebuah Zine berisi ide-ide segar yang seringkali out of the box.

Semoga konsep Zine bisa dikenal dan dipahami lebih banyak orang. Zine sebagai media alternatif patut dikenalkan kepada masyarakat luas, terutama anak muda yang penuh ide dan ingin menyuarakan pendapatnya tanpa dibatasi tren dan aturan tertentu yang berlaku di media-media arus utama. Pasti bakal keren banget kalau di Samarida ini muncul Zine-Zine baru.

Mengutip Ryan dari NobodyZine: “sebelum mati muda, bikinlah Zine kamu sendiri.”

Setuju?

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Pramesti Krisna

Pramesti Krisna

There are a lot of things I wish I would have done, instead of just sitting around and complaining about having a boring life - Kurt Cobain
Pramesti Krisna

Latest posts by Pramesti Krisna (see all)

Comments

comments