17 + 15 =

18 + sixteen =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Comeback album dengan Graham Coxon di dalamnya. Lirik tentang alienasi, interaksi sosial dan dunia maya. Menerjemahkan 90’s ke era milenia, Blur rasa 2000’s.

Blur - The Magic Whip Front Cover. Foto: Parlophone Records

Blur – The Magic Whip Front Cover. Foto: Parlophone Records

Sejak mengeluarkan album 13 di tahun 1999 lalu Graham Coxon resmi keluar dari line-up dari tahun 2002, prediksi Blur bakal redup tanpa Coxon terbayang di benak penggemarnya kala itu, dan akhirnya Blur berujung hiatus setelah merilis Think Tank. Blur is dead somehow. Keputusasaan generasi terakhir yang benar-benar menikmati kemegahan Parklife dan perseteruan britpop tersengit dengan Oasis. Masih perlu mengoreksi mana yang benar Blur-Oasis atau Oasis-Blur? Silahkan memilih polar kalian masing-masing. Beruntung di 2008 reunifikasi antara Albarn dan Coxon berujung tur dunia yang sempat membawa Blur ke Jakarta, 15 Mei 2013 lalu.

The Magic Whip adalah karya yang direkam di Avons Studio, Hongkong, saat mereka terdampar di Hongkong selama lima hari dan batal tampil Tokyo Rocks Music Festival. Album ke delapan yang dirilis 27 April 2015 dengan format four piece, penantian selama 16 tahun! Sudah sepantasnya The Magic Whip menjadi oase pelepas dahaga penggemarnya.

Hal yang tampak signifikan dari The Magic Whip adalah bagaimana album ini seolah bingkisan terbaik untuk penggemarnya, jangan pernah membandingkannya dengan Parklife. Masih terkontaminasi 90’s namun dengan pemetaan nada yang lebih liar khususnya elemen elektronik, Albarn yang juga berada dibalik Gorillaz bertanggung jawab akan hal itu. Dipenuhi aksen british yang penuh kegelisahan, gumaman ‘ohh-ohh’ di hampir setiap lagu yang beraroma 90’s, basslines yang lebih berisi dan muncul secara kompulsif, lirik menyoal alienasi-interaksi sosial-internet yang membuatmu merenung dan berujung suram, kontribusi Coxon di ranah gitar menjadikan album ini orgasme jasmaniah jika saja dimainkan secara live. Dapat dikatakan jika rindu per detik itu di-rupiah-kan ke saldo rekening, dan setelah menunggu 16 tahun maka kalian akan mendapatkan nominal yang mengejutkan.

Tur dunia Blur-The Magic Whip berlangsung dari April hingga Oktober tahun ini. Foto: .martinrecs.com

Sebagai pembuka “Lonesome Street” memang ditujukan untuk penantian 16 tahun tersebut, narasi pembuka yang riuh khas Blur, Coxon berceloteh! Pilihan yang tepat untuk masuk lebih dalam tentang pengaruh album ini di karir mereka. Di lagu kedua, “New World Towers” Blur membuka jalan untuk fase baru mereka, sebuah karya harmonis tentang neon sign dan efek global internet dengan aransemen synth dan gitar akustik. “Go Out” semacam beats impulsif dengan arah art rock sebagai pondasinya. Nuansa arcade ala chiptunes membuka “Ice Cream Man”, Albarn bernyayi tentang sesuatu yang creepy dengan balutan hal yang manis dan di dalamnya ia dengan sengaja menulis:

With a swish of his magic whip
All the people in the party froze
I was only twenty-one
When I watched it on TV

Ketika Albarn berusia 21 tahun satu-satu peristiwa besar yang disorot dunia di tahun 1989 adalah Pembantaian Tiananmen di China. Yah, dengan sampul album menggunakan huruf Mandarin, prasangka ini dibawa ke arah sana.  “Thought I Was A Spaceman” adalah elemen kejutan yang psychadelic, bayangkan Albarn sebagai Bowie muda yang peduli politik dengan kontaminasi feedback! Sesuatu yang ganjil namun menenangkan di “My Terracotta Heart“, Albarn mengakui kehilangan Coxon! Layak ditunggu ketika mereka membawakan odd pop song ini di atas panggung.

Is my terracotta heart breaking? I don’t know
If I’m losing you
If I’m losing you again

Blur (kiri ke kanan) Graham Coxon, Alex James, Damon Albarn and Dave Rowntree. Foto: Dominic Lipinski/PA Wire

Blur (kiri ke kanan) Graham Coxon, Alex James, Damon Albarn and Dave Rowntree. Foto: Dominic Lipinski/PA Wire

Lagu yang anthemic bermodalkan La-La-La di “Ong Ong” kembali membawa Blur ke era 90’s. Jika kamu mencoba mengalihkan isu politikal dan alienasi di album ini, sepertinya akan berujung sia-sia, “There Are Too Many Us”, “Pyong Pyang”“Y’All Doomed” secara eksplisit berkoar sesuatu yang mudah ditanggapi dengan bahasa yang denotatif. Awal baru untuk four-piece Britpop yang tampaknya berhenti berkompetisi menjadi yang terbaik di tanah Britania.

Welcome home Graham Coxon!

http://rd.io/x/Rl1t4do-BO1w/

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Alfian Meidianoor

Alfian Meidianoor

Editor in Chief at Undas.Co
Cat buff yang tertarik dengan semua hal yang berkaitan dengan gothic romanticism, benda langit dan fisika modern, zombie apocalypse, rilisan analog dan skena D.I.Y yang lebih aktif.

Comments

comments