3 − one =

3 × 2 =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

“Sebenarnya kalian ini ngapain sih?”

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penampil, pertanyaan di atas selalu dilontarkan—meski cuma dalam hati—sepanjang 30-50 menit awal durasi gig yang berlangsung di Fren Studio, Jalan Pangeran Antasari itu. Harap maklum, it was my first experience attending a literally private gig in a small studio, with some cognitive adjustments.

Justru setelah fase penyesuaian, seakan muncul mekanisme antisipasi secara perlahan. Membuat penampilan-penampilan berikutnya terkesan lebih berkenan untuk dinikmati orang awam yang jarang atau hampir tidak pernah terpapar Noise sebelumnya, kendati tetap di luar elemen-elemen kejutan yang dilancarkan secara dramatis, emosional, maupun spontan.

Mengapa perlu fase penyesuaian? Wajar saja, lantaran pikiran, persepsi, dan pencerapan kita sudah telanjur mengidentikkan ketidakteraturan, kesemrawutan, dan keberantakan sebagai bentuk kebingungan. Sebagai lawannya, istilah “musik” pun terpindai sebagai kumpulan nada, irama, dan pola suara. Mudah untuk diikuti alurnya. Sedangkan dengan hadir dalam gig ini, ada nuansa chaotic yang kuat dalam ruangan berukuran sekitar 3 x 8 meter tersebut. Belum lagi volume suara yang memekakkan telinga, baik yang sengaja dibuat, maupun yang tak sengaja keluar dari pengeras suara sebagai dampak teknis di luar perkiraan sebelumnya, lalu mau tak mau dijadikan bagian dari track yang dibawakan.

Situasi seperti ini banyak terjadi dalam sesi penampilan trio Sarana (Sabrina, Ara, Anis). Ketika efek suara yang dinantikan ternyata tidak sesuai keinginan, dan mereka disibukkan dengan beragam distraksi kala berada di “panggung”. Walaupun demikian, bagian-bagian klimaks penampilan yang berserakan di sepanjang durasi tetap bisa dipungut secara parsial. Tergantung siapa yang mendengarnya. Hingga kemudian setelah sesi mereka kelar, muncul pencerahan: “miknya ternyata rusak tuh.” Untungnya hal teknis itu lekas diketahui, sehingga tidak mengganggu konsentrasi penampil-penampil berikutnya yang boleh dibilang lebih lancar mengumbar libido neural.

Sarana

Sarana bisa disebut membuka studio gig ini dengan awalan yang relatif senyap. Baik atau kurang baik? Tergantung perspektif para hadirin (kurang dari sepuluh pasang telinga yang apresiatif). Namun bagi saya, penampilan tiga cewek itu memadatkan fondasi untuk penampil-penampil berikutnya. Yang pasti, sangat terasa bahwa track-track selanjutnya dalam gig Sabtu (14/11) tersebut lebih punya struktur serta minim distorsi secara implisit. Sekacau-kacaunya Noise sebagai sebuah pengalaman baru, tetap ada tadbirnya. Saat penampil menyiapkan diri dan perangkat elektronik, mulai membangun suasana, berkonsentrasi menampilkan aransemen seketika ataupun yang sudah terencana, terus mendaki puncak emosi, dan bisa juga ditambahkan entakan, untuk kemudian diakhiri dengan atau tanpa pemberitahuan semacam: “sudah selesai…” sambil tersenyum. Bersih dari renik-renik emosional sebelumnya.

Misalnya seperti yang ditunjukkan penampil kedua; Proton Canon. Boro-boro memahami syair “lirik” yang dibawakan cowok berambut lebat (baca: gondrong) dan digunakan sebagai gimmick “manggung” itu, semua fokus indra mau tak mau harus berkonsentrasi pada kejutan audio dan kecanggungan visual. Hingga akhirnya dikejutkan dengan aksi memukul gembreng dengan tangan kosong dalam ruangan dengan warna dominan hijau.

Proto Canon

Tertangkap dalam pertunjukan Proton Canon, lirik-lirik bernuansa perlawanan, anti-struktur, dan puncak kegelisahan. Kalau salah tangkap, ya maafkan.

Sesulit-sulitnya mendengar jelas lirik Proton Canon, agaknya lebih susah menangkap syair dari Saratdusta yang hadir dengan kemeja hitam lengan panjang terkancing habis. Akan tetapi aura track yang dibawakannya tidak semeledak-ledak Proton Canon. Justru pada beberapa bagian, terasa kuat bahwa area bar tersebut merupakan sesuatu dari dan untuk kontemplasi. Atau cuma perasaan saya saja? Ya bebas sih.

Somehow, track yang dibawakan Saratdusta sangat kompleks objek. Mengundang untuk diidentifikasi dan dianalisis, serta sukar untuk tak diacuhkan. Buktinya, walau hanya duduk selonjoran dalam ruangan kecil ber-AC, ketiak tetap basah. Menandakan ada energi yang terkuras, mengkonsumsi tenaga dan membuat pikiran bekerja. Tidak ketinggalan, efek dramatis dalam penampilan Saratdusta juga tersusun oleh bunyi-bunyian unik, dari alat entah apa namanya, berbentuk silinder dengan tali di salah satu penampang. Kemudian mikrofon bisa dimasukkan dalam lubang di sisi lainnya, dan menghasilkan ranah suara yang benar-benar berbeda.

Sesi berikutnya, sekaligus terakhir yang saya bisa ikuti adalah penampilan Theo Nugraha. Nama yang saya duga sudah telanjur populer dalam jagad Noise Tanah Air dan luar negeri.

Maklum aja kan ya, namanya juga awam. Saya sempat mengira sang pemusik menunggu panggilan untuk datang dan bermain, barangkali saking sibuknya, dan dihubungi lewat telepon. Namun justru track yang dibawakan ditampilkannya lewat sambungan telepon. Membuat saya teringat metode serupa dalam pengiriman doa dari figur tertentu, yang biasanya diperdengarkan kepada seseorang dalam kondisi sakit dan sejenisnya. Ini pujian, jangan salah paham.

Entah instrumen apa yang dimainkannya di ujung sambungan telepon sana, Theo Nugraha meminta disiapkan instalasi Reverb disambung Distorsi. Terdengar dari ujung telepon, ia meminta izin untuk melipir sejenak dari rekan-rekannya, untuk “waktu hening”.

Pertunjukan dimulakan. Seisi studio siap terserap dalam track—kecuali saya yang sambil sibuk memfoto. Semua dibawakan dengan lancar lewat colokan jack ukuran standar. Hingga pada sekitar menit ke-2 dan beberapa belas detik, kami semua mengacuhkan panggilan “halo… halo…” yang terdengar surreal. Saat panggilan tersebut berulang tanpa bunyi-bunyian lain, baru salah satu dari penyelenggara sadar bahwa itu bukan bagian dari track.

Di sini mati lampu, wal!” kata Theo Nugraha.

Untungnya tidak dibarengi adegan *gubrak* orang-orang yang sudah “menikmati” suguhan. Hanya saja, penampilan tetap berlanjut meski kami tahu Theo di sana berusaha kreatif memanfaatkan sumber bunyi-bunyian yang ada, dan rada kesal dengan gangguan teknis yang dialami. Kesal lantaran takut mengecewakan gig’s crowd.

“Penampilan” Theo Nugraha

Theo Nugraha pun menjadi satu-satunya penampil petang itu, yang mengakhiri pertunjukan audionya dengan salam.

Setelah Theo Nugraha, berdasarkan list penampil, gig dilanjutkan oleh Jeritan dengan jadwal durasi acara hingga pukul 18.00 Wita.

Lalu, mungkin banyak dari kamu yang kemudian bertanya: “tulisan ini maksudnya apa sih?” Tenang saja, sama seperti Noise itu sendiri, artikel ini tidak menuntut untuk dimengerti, kok. Yang pasti, setelah gig bertajuk “MHKMKLKTF Studio Gig” itu usai, saya jadi pengin minum soda gembira.

image

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Dragono Halim

Dragono Halim

Writer at Undas.Co
"Dragono Halim. Just Google it."

Comments

comments