12 − eight =

nineteen − 10 =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dari bulan-bulan lalu, Samarinda semakin sering mendapatkan hujan dengan Guntur dan kilat yang bisa bikin Steve Jobs hidup lagi. Paginya panas, siangnya hujan deras. Sorenya panas lagi.

Buat para pluviophile, mas-mas cuci motor, pengantin baru, atau yang baru jadian dan hobi ndusel-ndusel, penulis yang bingung mau bikin artikel apa lagi, dan orang-orang galau yang perlu pengalihan supaya bisa menangis, musim ini “berkah” banget. Raingasm.

I always like walking in the rain, so no one can see me crying.” – Charles Chaplin

Iya sih, hujan itu memang berkah. Tapi tak bisa dimungkiri kalau musim hujan pasti memunculkan kerepotan tersendiri. Bukan cuma urusan rumah kebanjiran dan susah beraktivitas, tapi juga bikin para pengendara dilematik. Terutama yang menggunakan dengan motor. Kamu pasti pernah mengalami dan mengeluhkan hal-hal berikut ini.

Bimbang mau hujan-hujanan atau berteduh

Masalah utamanya di sini. Biasanya saat hujan sudah mulai turun, kami, P2MCI (Para Pengendara Motor Cakep dan Imut) akan mendadak jadi peramal cuaca. Tanpa komando, biasanya kami mulai menengadah, memandang ke atas untuk melihat warna langit di tempat tujuan. Atau bisa juga dengan serentak mengangkat tangan ke langit, maksudnya sih untuk merasakan angin dan tetesan air meski kelihatannya seperti sedang mengamini sesuatu.

Walaupun kami enggak tahu kenyataannya, setidaknya kami bisa memprediksi apakah sudah turun hujan atau belum. Kalau kering, berarti belum hujan. Kalau sudah hujan… ya basah dong.

Kalau sudah kelihatan gelap, biasanya kami memilih untuk berteduh karena enggak mau kelihatan kayak habis berenang saat sampai di tempat tujuan. Tapi kalau hujan masih gerimis mengundang dan belum membasahkan, biasanya kami memilih untuk menambah kecepatan supaya lebih cepat sampai tujuan. Sebenarnya, ini bahaya. Namun kan katanya setiap orang punya takdirnya masing-masing. Hahaha!

Bawa jas setiap hari

Jas hujan, maksudnya.

foto: aliexpress.com

foto: aliexpress.com

Musim hujan membuat kami waspada, pasalnya hujan bisa terjadi tanpa bisa diduga. Pagi yang cerah benderang tidak menjamin kalau enggak akan turun hujan selama sisa hari. Makanya kami selalu siap siaga jas hujan di bawah jok motor. Kadang saking seringnya hujan, kami akan menggumpal jas hujan itu karena terlalu malas masuk dan keluarkan.

Ini dilematik. Enggak pakai jas hujan, pasti basah. Akan tetapi banyak yang malas atau enggan pakai jas hujan karena jelek. Jas hujan itu enggak fashionable. Desain jas hujan yang beredar selama ini enggak ada yang artistik. Makanya enggak cocok juga disebut mantel. Soalnya mantel itu identik dengan desain busana. Kalau sudah terpaksa, mau enggak mau ya harus pakai jubah Dementor itu.

Kena cipratan dari ban motor depan

Setelah hujan reda, bukan berarti cobaan kami selesai. Jalanan yang masih basah dan sisa-sisa air yang berkumpul sebagai genangan menjadi teror tersendiri bagi kami. Apalagi gumpalan-gumpalan lumpur yang sering kami sebut licak.

Salah-salah, baju-jaket-celana-sepatu yang sedang kami pakai menjadi korbannya. Biasanya ada saja manusia-manusia yang lewat tanpa dosa dan menghambur licak. Akibatnya, baju jadi punya motif macan tutul. Kitanya sudah hati-hati dan berusaha jalan pelan, eh ada entah motor, mobil, bus, sampai truk yang melaju kada tetahu-tahu. Jadi dengan segala kerendahan hati, mudah-mudahan mas-mas yang sering menghambur lumpur menghentikan kebiasaannya.

Bisa jadi gara-gara ini, angka penjualan skuter matic melonjak. Soalnya ada penutup paha sampai kaki. Sehingga minimal celana keren dan sepatu aman dari muncratan lumpur.

Di sisi lain, sebenarnya masalah genangan air, licak, dan cipratan ini bisa diminimalisasi. Hanya saja, hampir semua ruas jalan di Kota Samarinda ini tidak dibangun mengikuti pakem infrastruktur sipil yang berlaku secara internasional. Tahu enggak, semua ruas jalan baik dengan aspal maupun cor semen harus dibuat dengan pengerucutan bersudut tertentu supaya tidak ada cekungan, dan menghindari terjadinya genangan air setelah hujan. Ndak percaya? HP-mu bisa akses Google, kan? Terima kasih kembali.

Motor selalu kotor

Ini sih rezekinya tempat-tempat pencucian motor.

Sebenarnya ini general, bukan hanya dirasakan pengendara motor. Musim hujan gini selalu membuat kita malas cuci motor. Cuci sebentar, kotor lagi. Dicuci siang hari, dengan penuh keyakinan kalau akan bertahan lama, eh ternyata sorenya badai. Kalau baru nyuci tapi harus jalan di kondisi jalanan yang masih basah karena hujan, ingin rasanya ngajarin motor jalan jinjit.

Jadi, beberapa dari kami yang enggak terlalu peduli dengan kebersihan, kami akan menunggu sampai musim hujan berakhir. Masalah kalau kotornya sudah kayak mobil tambang itu belakangan saja. Anehnya, enggak cuma Samarinda yang kena hujan, kan? Tapi coba kamu bandingin, kendaraan-kendaraan yang habis hujan-hujanan di Balikpapan, Bontang, bahkan Tanjung Redeb dan Tarakan enggak sampai sebegitu kotornya.

Kaus kaki basah

Secinta apa pun seseorang dengan air; atlet renang mana pun yang menghabiskan waktu berjam-jam di kolam, atau bos laundry pasti enggak ada yang suka dengan kondisi kaos kaki basah. Rasanya mau langsung dibuang. Rasanya enggak nyaman, dan bau.

Jalanan di beberapa tempat Kota Samarinda yang selalu jadi kolam saat hujan, kadang memaksa kami untuk menyelupkan kaki ke air berwarna cokelat itu. Apalagi kalau banjirnya di sekitar traffic light. Jadi ya kita sebagai pengendara motor mau enggak mau harus turun kaki. Jadilah kaus kaki mengerikan.

Buat yang berkendara dengan motor, apalagi masalah kamu saat musim hujan? Yuk lah berbagi keluhan kamu di sini.

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Kukuh Kurniawan
Orangnya sering hoki, buktinya tiap jalan santai selalu dapat payung.

Comments

comments