twenty − eighteen =

four × one =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

65959

Judul Buku: Imagine John

Penulis: Dhihram Tenrisau

ISBN: 978-602-17510-6-0

Penerbit: Kedai Buku Jenny

Tanggal Terbit: Desember 2015

Tebal: 119 halaman   

Ketika saya melihat cover dan membaca judul buku ini, saya sempat heran, mengapa harus John Lennon dengan mahakaryanya, Imagine? Padahal, banyak juga potongan lagu yang Dhihram sematkan di dalam buku ini. Kemudian, ada satu hal menarik di awal saya membaca. Ketika membuka halaman awal menuju bab pertama, saya disambut dengan gambar yang mungkin merupakan hasil karya seorang anak kecil dan suatu tulisan “kami bosan berharap”. Ternyata Dhihram ingin menyisipkan pandangan atau paradigma seorang anak kecil terhadap apa yang dia ketahui tentang dunia selama ini, dunia yang dipusingkan dan diperdebatkan orang dewasa.

Masuk pada isinya, bab pertama“Masyarakat dan Politik Kebangsaan”,ada beberapa jastifikasi yang ditegaskan, seperti “kita semua adalah buruh, apapun itu” atau “jangan-jangan orang yang atheis malah lebih ‘beragama’ dari kita?” bahkan saya berpendapat Dhihram ingin menyimpulkan bahwa “rakyat Indonesia sebagian besar merupakan masyarakat yang memiliki mental follower yang penakut”. Memang terdengar provokatif, namun itulah kenyataannya. Hampir setiap kali selesai membaca tiap segmen pada bab pertama membuat saya bergumam, “hmmm…benar juga,” atau “wah…tidak terpikir sebelumnya”. Hal ini dikarenakan Dhihram mengajak pembacanya lebih berimajinasi dalam menyelami maksud dari setiap tulisannya. Dia mampu menggambarkan detail dari kecemasannya terhadap kondisi masyarakat dengan ideologi dan identitasnya yang mengabur, kekuatan mental dan pikirannya yang melemah, bahkan fenomena klise seperti mudik lebaran memberikan penyadaran akan “mudik bukan sebatas ritual, namun lebih pentingnya merupakan jalan spiritual.”

Dhihram sering menggunakan analogi terhadaptopik yang ditulis dengan sejarah peradaban, karya-karya sastrahingga makanan. Contohnya saja pada segmen “Pizza di Arena Pilkada”. Pada awal paragraf sudah terbayang betapa nikmatnya pizza kemudian saya terbawa masuk ke pemikiran seorang ahli dengan teorinya akan alam semesta yang tak bertepi dengan sifat keabadiannya. Nah, di sin,i Dhihram mengutak-atik imajinasi pembaca agar mampu mengunyah dan menelan secara sempurna setiap kalimat yang disajikan. Tidak sedikit doktrin yang disematkan di setiap segmennya. Namun Dhihram tidak memaksa pembaca untuk setuju atau tidak setuju terhadap pemikirannya dan pemikiran para ahli yang dikutip. Dia bahkan mengajak kita untuk mencari jawaban dari setiap problematika yang dipaparkan. Semua dia kembalikan lagi kepada pembaca. Tidak jarang pula saya melihat Dhihram menyajikan pandangan negatifnya terhadap suatu fenomena, meskipun terkadang dibungkus dengan kalimat halus penuh daya intelektual tinggi namun menusuk seperti duri dalam daging. Namun ada pula beberapa kata yang mungkin bisa dikatakan tegas, kuat atau kasar, dan inilah kode bahwa Dhihram tak mampu lagi membendung kegeramannya akan suatu fenomena yang ditangkapnya.

Pada bab kedua, “Menuju Sehat Hakiki”, Dhihram mulai menampakkan dirinya sebagai seorang dokter gigi muda. Dapat kita temukan istilah-istilah kesehatan, khususnya kedokteran gigi, seperti orthodonsi, handpiece, dan sebagainya. Awalnya, Dhihram sedikit bernarasi dengan melibatkan beberapa dialog.Dia mencoba meyakinkan bahwa dokter bukan sekedar pekerja kesehatan, dokter juga memiliki tanggung jawab moral sebagai agen sosial dan agen perubahan. Di samping banyaknya polemik dan fenomena tak positif yang mengontaminasi “jas putih” pekerja kesehatan seperti dokter, perawat, dan petugas administratif.

65960

Saya melompat dari segmen satu ke segmen lainnya, dari bab yang satu ke bab lainnya. Saya katakan melompat, ya karena membaca keseluruhan kata, kalimat, paragraf, segmen, bahkan bab dalam buku ini, seolah Dhihram menarik saya untuk berpindah dari trampolin yang satu ke trampolin lain. Membingungkan tapi candu dan kadang membuat gemas.

Masuk pada bab ketiga, “Kaum Muda dan Perubahan Sosial”, Dhihram kembali berorasi dengan bekalnya selama bergelut di suatu organisasi kemahasiswaan. Seolah membuka aib dari organisasinya, namun meyakinkan bahwa “kami tidak seburuk itu” dengan menggambarkan sisi-sisi positif yang masih ada dan dengan harapan tetap ada. Jadi, jika ingin membayangkan Dhihram berada di panggung orasi dengan ikat kepala dan pengeras suara, maka bab ini mewakilinya. Seperti itulah.

Tiba pada bab terakhir, “Musik dan Politik Keseharian”. Dhihram mengaitkan musik dengan kondisi masyarakat yang tidak dapat lepas dari “kekuasaan” dan pergolakan sosial dalam bungkus politik. Dia mencemaskan masa depan musisi di Makassar. Adanya kritikan terhadap dunia musik namun tidak berarti tanpa saran, dihamburkan olehnya pada bab ini. Dhihram mencoba mengatakan bahwa “musik perlu membawa suatu perubahan ke arah positif.”

Namun amat disayangkan, Imagine John masih sangat perlu perbaikan dalam penulisan dan pengetikan. Hal ini bagi saya sangat berbahaya karena jika pembaca yang awam mencoba memahami buku ini, maka tidak dapat disangkal akan terjadi kesalahan dalam pengertian dan pemaknaan. Dhihrampun cukup banyak mengaitkan segmen di dalam Imagine John dengan agama. Saya pribadi kurang setuju dengan anggapannya terkait plurarisme agama dan musik yang dikaitkan dengan ritual ibadah haji. Suatu agama tidak dapat dianalogikan atau disamakan dengan agama lain. Mengutip dari Quran Surah Al-Kafirun ayat keenam, “untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Jika Islam seperti itu, ya seperti itulah.

Pada akhirnya, membaca Imagine John dari kacamata saya seolah menegaskan bahwa Dhihram secara sadar ataupun tidak menggunakan tiga pendekatan dalam antropologi, yaitu pendekatan historis, komparatif yang umumnya diakronik, dan holistik. Hal ini sebenarnya membuat saya lumayan merinding karena seorang mahasiswa pendidikan dokter gigi yang dikenal begitu eksak memiliki kepekaan dan daya pikir layaknya seorang aktivis. Selain itu, data-data observasi yang diperolehnya selama ini mampu dikemas dalam satu karya yang bagi saya sendiri seperti membaca perpaduan karya seorang Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer, dan Pierre Bordieu bahkan Karl Max. Dhihram seolah ingin mengatakan kepada pembaca bahwa “dunia sedang tidak sehat-sehatnya”, “kesehatan saat ini sedang sakit”, “dokter pun adalah agen perubahan dan sosial layaknya mahasiswa”, dan “musik dapatmembawa perubahan ke arah positif”. Maka bagi mereka yang demam dengan bacaan berat dan kritis, Imagine John dapat menjadi obat anda.

Kontributor: Dian Ricta Siregar

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Comments

comments