six − three =

seven + thirteen =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Editorial pertama bulan Agustus 2016 ini, yang juga bertepatan dengan hari paling pertama di bulan Agustus (How Lovely!) sengaja saya beri tema kemerdekaan karena yah.. bulan Agustus memang identik dengan kemerdekaan kan? Tanpa harus muluk-muluk membicarakan tentang kemerdekaan suatu negara atau berkomentar nyinyir soal bagaimana sebetulnya Indonesia itu sama sekali belum merdeka, saya akan membicarakan kemerdekaan dalam scope yang lebih kecil, tentang kemerdekaan untuk diri sendiri…

Behold, it will be a long and windy journey…

photo-1462146449396-2d7d4ba877d7

Saat SMP saya bersekolah di SMP 2, bukan sekolah yang terbaik di Samarinda karena saat itu SMP 1 masih jemawa dengan segala prestasinya (meskipun mungkin sekarang sudah “tergusur”). SMP 2 adalah sekolah yang unik dan memiliki keberagaman yang luas. Entah bagaimana mayoritas pelajar disana adalah anak Etnis Tionghoa, dan saat itu yang namanya rasisme dalam pergaulan itu nyata terasa, para anak etnis tionghoa memilih untuk berteman dengan “kaumnya” saja. Karenanya, pribumi yang tersisa di dalam kelas pun berteman dengan sesamanya saja. Dian Gerhana Salah satu dari anak pribumi yang ada di kelas saya. dan ia adalah seorang Bully kelas kakap.

Dian Gerhana konon adalah anak dari seorang centeng, punya arogansi ala tiran. kelakuannya kasar, mulutnya pedas dan nafasnya bau. Dian Gerhana mengintimidasi setiap anak di kelas, menghina fisik, memukuli mereka dengan keras dan seperti beranggapan bahwa setiap uang jajan mereka adalah hak-nya. Saya yang saat itu dikenal sebagai anak pendiam yang lemah adalah salah satu korban favoritnya. Dian Gerhana secara konsisten menyakiti saya dengan pukulan dan kata-katanya, setiap hari sekolah menjadi sesuatu yang penuh siksaan, dipermalukan di depan orang banyak sudah menjadi makanan sehari-hari. pernah suatu hari saya tak bisa pulang karena ongkos angkot untuk pulang diambil semua olehnya. Dian Gerhana was the worst person on this planet. 

Di suatu momen yang tak terlupakan, saya menangkis pukulan Dian Gerhana dan bahkan membalasnya dengan lebih keras, saya tak bisa menjelaskan keberanian itu datang dari mana, saya menepis semua pukulannya dan membalas dengan sekuat tenaga. rasanya sangat melegakan sekali, Dian Gerhana kaget karena saya yang biasa rela jadi Punching Bag-nya ternyata bisa membalas semua serangannya, bukan hanya membalas tapi juga menyakitinya. It was a liberating moment. sebuah momen pembebasan yang merubah segalanya. Mulai dari situ saya jadi sosok yang lebih peka terhadap anti-penindasan, saya mendengarkan band-band punk hardcore seperti Minor Threat dan Black Flag, dan setelahnya gak pernah di-bully lagi, momen memerdekakan diri itu datang karena berani.

Sekarang saya tidak tahu Dian Gerhana ada dimana, saya harap ia baik-baik saja. saya yakin dia orang baik yang waktu itu sedang khilaf parah. Apa yang membuat Dian Gerhana gemar membully? analisa saya yang gak begitu dalam menyimpulkan bahwa dia kurang perhatian dan diliputi rasa iri dengki, dia ingin menjadi sosok yang punya Power. Persis seperti yang diutarakan Mbak Mica Lubeka, seorang Facebook Influencer yang kini juga menjabat sebagai Video Producer di UNDAS.CO. Sewaktu SMA, Mba Mica mengakui bahwa ia adalah seorang yang gemar membully, yang dia bully adalah adik kelas yang cakep dan jadi pusat perhatian, Menurutnya, aksi bully yang dilakukannya adalah karena iri hati, sekarang dia sudah berhenti membully setelah merasakan karma tidak enaknya dibully oleh 24 wanita sekaligus di Facebook. Bullying tak pernah menjadi hal yang baik dan tak akan pernah menyelesaikan masalah apapun

Memerdekakan diri sendiri butuh keberanian, pada detik ini pun diri kita sendiri belum merdeka. masih banyak dari kita yang dibully oleh pekerjaan, oleh atasan, oleh hutang atau oleh keluarga kita sendiri. Sehari-harinya cobaan hidup membully kita agar kita jadi lebih kuat dan berani menghadapinya. momen membebaskan diri dari bullying seperti ini jelas menuntut keberanian yang besar. Bulan Agustus ini adalah waktu yang sangat baik untuk membebaskan diri dari bully, saat kita akan merayakan hari kemerdakaan negeri kita tercinta, ada baiknya kita sudah terlebih dahulu memerdekakan diri sendiri.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Rhesa Arisy

Rhesa Arisy

CEO at Undas.Co
Pada suatu hari Rhesa Arisy membaca buku biografi Steve Jobs dan mendapati fakta bahwa orang itu adalah pecundang yang kuliahnya tidak selesai, namun berhasil membangun sebuah perusahaan yang sangat sukses bernama Apple. Terinpirasi fakta tersebut Rhesa Arisy pun memberanikan diri untuk berhenti kuliah di semester 13. Apakah lantas ia bisa menjadi sesukses Steve Jobs? Nope. Not at all. Ia cuma bisa jualan produk Apple dan jadi penulis kontributor di Situs humor terbesar di Indonesia. But Now Rhesa Arisy trying harder to be a Succesful College Dropout like Steve Jobs, dengan menjadi founder dan leader dari sebuah startup company yang punya kepedulian terhadap kemajuan kotanya yang konon diisi orang-orang terkeren di kota tersebut. Undas!

Comments

comments