1 × four =

16 − three =

The XX: I See You
4.3Keberagaman dan brilian dalam satu format LP
Reader Rating 1 Vote
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Di album ini The XX melambungkan lamunan siang bolongmu ke ruang dan waktu yang meneduhkan. I See You menggema sebagai The XX yang solid secara tim. Percayalah!

The XX adalah sebuah melting pot yang sangat relevan, jika berbicara soal musik yang mampu mendefenisikan emosi dan karakter pendengarnya. Produk musik millennial yang kerap menerjemahkan emosi ke dalam lelaku dan karya secara eksplisit. Musik mereka serupa minuman dingin bersoda di tengah terik matahari, sejuk dan mengusir penat.

Romy Madley Croft. Foto: DIMITRI HAKKE/REDFERNS/GETTY IMAGES

Dirilis per tanggal 13 Januari 2017, masih dibawah label Young Turks. I See You album penuh ketiga dari The XX ini digarap dengan potensi yang berbeda dari dua album sebelumnya. Memang tidak banyak perubahan, kita masih menemukan jejak dream pop, atau lebih tepatnya wacana C86 indie pop yang kental, dan tentunya electronic dance music dengan bass berfrekuensi rendah sebagai kerangkanya.

Di I See You trio asal London ini membawa pendekatan yang sedikit lebih rumit dari karya sebelumnya. Jika seolah ada limitasi akan eksplorasi di dua album sebelumnya, I See You lahir dengan dua kekuatan yang diset mentok dari Romy Madley Croft (gitar, vokal) dan Oliver Sim (bass, vokal). Yah, tak dapat dipungkiri tanpa Jamie ‘XX’ Smith (beat, kontroler) The XX hanya akan menjadi tipikal C86 indie pop generik.

Oliver Sim. Foto: pinterest.com

Divisi vokal semakin fasih dalam membangun identitasnya, Croft dan Oliver bergantian dan kadang bersahutan membagi afeksi, lalu menyampaikan keresahan patah hati serta kehilangan di album ini. Seolah berdialog satu sama lain dalam satu aransemen, dan terkadang menyampaikan monolog di satu lagu dan dibalas di lagu selanjutnya. Vokal tampaknya menjadi kekuatan utama dari album ini, dan pemilihan beat oleh Jamie mengantarkan dua warna pita suara itu fit dalam arensemen.

Jamie XX, kegemarannya mengoleksi vinyl menjadikan amunisi samplingnya tak terduga. Foto: npr.org

Walau tak dapat dipungkiri kontribusi suara organik dari gitar dan bass tidak begitu saja dilewatkan di tengah-tengah set up pemetaan perkusi elektronik milik Jamie. Ada porsi yang terukur antara ambisi untuk mengeksplor lebih jauh dengan menjaga keintiman emosional pendengar The XX sendiri. Di album sepanjang 39 menit ini The XX banyak mencipta aransemen yang downer tapi bergelora lewat lirik dan vokal. Yah, I See You menjanjikan pengalaman meneduhkan yang meninabobokan, dimana Croft dan Oliver sebagai hipnoterapis-nya.

Di lima detik pembuka album, “Dangerous” mengusik lewat bunyi klakson dan kemudian serangkaian melodi ekletik yang memicu pergerakan sendi-sendi. Nomor ini layaknya bahan bakar untuk arogansi tak terukur ketika  Croft dan Oliver bersama-sama melafal,

They say You are dangerous, but I don’t care/ I’m going to pretend that I’m not scared/ If this only ends in tears/ Then I won’t say goodbye/ ‘Cause I couldn’t…’Cause I couldn’t care less/ If they call us reckless/ Until they are breathless/ They must be blind.”

Kekuatan artikulasi dan sinkronisasi pola duet mereka sajikan di “Say Something Loving”. Berdialog secara implisit antara dua karakter yang di ujung tanduk relasi mereka. Perhatikan artikulasi ber-reverb tebal Croft dan nada putus asa Oliver yang sepakat di cara pengucapan tiga silabil di penghujung syair. Dan tentunya sampling mengejutkan dari Alessi Brothers. “Do You Feel It.” Jamie sebagai produser berada di level yang tak lagi menjejak bumi.

Lirik yang intim dan eksotis di “Lips” dibarengi pola perkusif yang memacu jantung. Kentara Oliver menjadi penjantan yang membangkitkan gairah kaum hawa. Bersama Croft “Lips” menjadi senandung menuju akuisisi dunia oleh sepasang Homo Sapiens. Empat menit selanjutnya The XX merajut emosi dengan bass berfrekuensi rendah di latar lalu melonjak drastis. Menyoal adiksi alkohol Oliver yang berujung buruk. Sebuah lagu yang digarap dengan relasi yang kuat antara lirik dan aransemen. Dan dari kutipan wawancara mereka, Croft dan Jamie yang datang membantu Oliver mengurangi adiksinya.

The XX as a solid team, yet grows up as a band. Foto: WILL HEATH/NBC/NBCU PHOTO BANK VIA GETTY IMAGES

Giliran Croft yang bertutur bagaimana ia berusaha membuat orang lain terkesan dengan penampilan panggungnya. Tanpa lirik ini pun yang pernah menonton aksi panggung The XX akan mudah menebak Croft adalah tipe ‘OK di luar tapi sekarat di dalam’. Warna album XX tertinggal di nomor ini, dengan penambahan biola di dalamnnya, party dropper layak disematkan di nomor ini.

Pola permainan bass repetitif dari Oliver mewarnai “Replica” yang masih di merayap di tempo menengah. Warna vokal Oliver memberi sentuhan yang unik di sini. Agak janggal rasanya jika kedua orang ini menyanyikan sesuatu yang berkaitan dengan kegagalan senior mereka masing-masing. Deklarasi tentang generasi kedua yang tidak mau menduplikasi kesalahan generasi pertama.

“Brave For You” diwarnai dengan memori Croft akan kedua orang tuanya yang telah tiada, “On Hold” layaknya hidangan utama yang terdengar lebih ceria dan penuh posisi tawar akan sebuah relasi. Versi eerie dari karya Jamie XX di In Colour. Dan kemudian “I Dare You” mengisi nomor selanjutnya, versi jawaban dari “On Hold” yang melengkapi ‘saga’ dari roman picisan di dalamnya.

Pilihan yang tepat membungkus album ini dengan “Test Me”. Jamie, Croft dan Oliver kembali melebur di sini. Di aransemen yang membuat telingamu memerintahkan tubuh untuk bersandar sesaat. Sebuah ode berbalut mahakarya dari grup ini. Membagi pernyataan yang sama untuk para pendengarnya, tentang ikatan serta meninjau ulang tujuan. “Test Me” memetakan sensasi auditory kita lewat,

Tell me this time you’ve changed/ I’ll take it out on you/ It’s easier than talking it through/ Test me, see if I stay/ How could I walk the other way?”

Sebuah outro yang menegaskan makna lugas dari, “Test me, see if I break,” menasbihkan potensi grup ini untuk menyeleseikan kericuhan dan masalah mereka sebagai perorangan, dan sebagai grup lewat sebuah karya di I See You. Entah kenapa di album ini The XX tidak hanya melahirkan karya yang brilian, tebal secara emosi, dan sinergi yang apik. The XX juga seolah-olah melambungkan lamunan siang bolongmu ke ruang dan waktu yang meneduhkan. Tapi jangan lupa mereka juga membuktikan kesolidan mereka sebagai tim.

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Alfian Meidianoor

Alfian Meidianoor

Editor in Chief at Undas.Co
Cat buff yang tertarik dengan semua hal yang berkaitan dengan gothic romanticism, benda langit dan fisika modern, zombie apocalypse, rilisan analog dan skena D.I.Y yang lebih aktif.

Comments

comments