fourteen − eleven =

5 − 3 =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Selain kuliner, kain khas daerah bisa menjadi alternatif cinderamata. Seperti di kota atau negara lain, tidak sedikit para wisatawan yang berburu kain khas daerah sebagai buah tangan atau sekedar koleksi pribadi. Di Indonesia tercinta ini, kita bisa menemukan ribuan kain tradisional yang memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Yang paling familiar dengan kita adalah kain batik dan tenun. Karena hampir setiap daerah di Indonesia mempunyai kain batik dan tenun dengan motif khasnya.

Seperti halnya di Samarinda. Kita pasti sudah sangat tidak asing dengan sarung Samarinda. Kerajinan tenun ini menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Kota Tepian yang sekarang popularitasnya sudah sampai kemancanegara. Awalnya, kerajinan tenun sarung Samarinda dibawa para perantau Bugis dari Sulawesi yang tinggal di pesisir sungai Mahakam. Lambat laun, sarung bermotif kotak-kotak yang menggunakan bahan baku sutera ini berhasil menarik perhatian orang untuk membelinya.

Dan seiring dengan perkembangan pariwisata dan fashion, motif sarung Samarinda juga mengikuti tren. Dari hanya selembar kain yang dijadikan sarung, kini sudah menjadi item fashion seperti yang sudah sering kita jumpai. Klik disini deh, kamu bisa lihat beberapa desain moderen Sarung Samarinda.

Kalau sebelumnya UNDAS.CO sudah membahas secara detail tentang sejarah Sarung Samarinda yang bisa kamu baca disini. Sekarang, UNDAS.CO ingin mengajak kamu untuk mengenal motif baru sarung Samarinda.

Selain motif Balo Hatta, Balo Negara, Balo Mammaruwe, Sarung Samarinda sekarang sudah lebih moderen. Di tangan Anas Maghfur yang dikenal sebagai pengusaha pelestari budaya dari Samarinda ini, Sarung Samarinda semakin kekinian. Ia menciptakan motif sarung baru yang belum ada di Samarinda bekerjasama dengan pengrajin tenun di Samarinda Seberang. Pemilik brand AEMTOBE ini merilis dua motif baru Sarung Samarinda dalam setahun terakhir. Yang pertama, Sarung Samarinda motif Balo Sikko Laa.

Balo Sikko Laa, motif baru Sarung Samarinda. foto: instagram.com/aemtobepremiere

Balo Sikko Laa ini dirilis pada tanggal 12 Oktober 2016. Nama motif ini diambil dari bahasa Bugis. “Balo” berarti motif, sedangkan “sikola” bermakna warna cokelat atau kecoklatan. Warna cokelat terinspirasi dari kayu pohon ulin. Pohon Ulin yang bernama latin Eusideroxylon zwageri banyak ditemui di Kalimantan khususnya Kalimantan Timur. Limbah kayu ulin itulah yang dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang menjadi warna primer dari kain ini. Sebagai pendukung lainnya, akar mengkudu dan daun bawang pun dimanfaatkan sebagai pewarna. Dengan menggunakan pewarna alam, dapat dipastikan tidak berbahaya dan tentunya ramah lingkungan.

“kita boleh terinspirasi dari kayu ulin, tapi jangan mengeksploitasi” – ujar pria yang dikenal sebagai penggerak Kampanye Budaya.

Sutra pintal sebagai bahan dasar. foto: instagram.com/aemtobepremiere

Dengan menggunakan bahan dasar sutra pintal (spunsilk), kain ini semakin cantik dengan aksen lis warna biru yang juga menjadi salah satu ciri khasnya. Proses pengerjaannya masih sama dengan motif sebelumnya. Ada dua teknik pengerjaan yaitu Gedokan (Alat tenun duduk) yang proses pengerjaannya bisa menghabiskan waktu 3-5 hari. Teknik yang lain adalah dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang memakan waktu lebih lama dari teknik sebelumnya. Paling tidak perlu waktu 15 hari untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun.

Selembar kain tenun sarung Samarinda berukuran lebar 60 cm dikembangkan lagi menjadi produk ready to wear. Anas membuat produk fashion khusus pria. Delapan belas koleksinya terdiri dari baju, outer dan clutch pria.

foto: instagram.com/aemtobepremiere

Kibung Mebu Mabu adalah motif kedua dari pengembangan motif Sarung Samarinda karya Anas Maghfur. Motif yang dirilis tanggal 10 Desember 2016 lalu ini terinspirasi dari Dayak Lundayeh. Suku Dayak Lundayeh berdomisili di pedalaman Kalimantan Timur. Motif ini tampak elegan dengan pemilihan warna dasar putih dan abu-abu. Aksen garis-garis pun membuat motif ini semakin moderen.

Masih sama dengan motif Balo Sikko Laa, Motif Kibung Mebu Mabu ini juga menggunakan pewarna alami dari limbah kayu ulin. Dan juga menggunakan bahan dasar yang sama yaitu sutra pintal. FYI guys, cara membedakan kain yang menggunakan pewarna alam dengan kain texlite bisa kamu rasakan dari kainnya. Kain dengan pewarna alami sedikit agak keras namun lama kelamaan akan lentur.

Kain Balo Sikko Laa dan Kibung Mebu Mabu ini dibanderol dengan harga mulai Rp. 450.000. Selain cocok dipakai sendiri, kain tenun ini juga sangat cocok sebagai cinderamata khas Samarinda. Sstt… bocoran buat kamu nih, motif baru selanjutnya juga akan rilis loh..

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Azminda Lubis

Azminda Lubis

Pecinta crafting, blogging, menulis dan bidang kreatif. Ibu rumah tangga yang belajar untuk selalu berkarya. Punya quote penyemangat "Setiap karya ada peminatnya"
Azminda Lubis

Latest posts by Azminda Lubis (see all)

Comments

comments