one × 1 =

eleven + 5 =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Reportase dari konser Warpaint Live in Jakarta. Wireitup! memboyong Warpaint ke Indonesia untuk pertama kalinya, dan menghasilkan konser musik terbaik 2017 sejauh ini.

Wawan Sutiawan (@punchxheart) berangkat dari Cirebon ke Jakarta. Ia memulai perjalanan 222 kilometernya tepat pukul 11 malam, agar pagi harinya ia dapat menemui band pujaannya, Warpaint. Ia menyempatkan hadir di sesi Meet & Greet yang diadakan Wireitup -selaku penyelenggara event- di Lobby Senayan Golf Driving Range. Wawan membawa hatinya yang membuncah karena sudah tidak sabar bertemu dengan empat wanita yang dijunjung tinggi olehnya: Emily Kokal, Theresa Wayman, Jenny Lee Lindberg dan Stella Mozagawa. Tidak hanya membawa hati dan rasa cintanya, Wawan juga membawa piringan hitam album terbaru Warpaint Heads Up, untuk ditandai oleh masing-masing personel. Dan yang paling spesial, Wawan membawa empat buah jam tangan yang sudah dikustomisasi sehingga menampilkan masing-masing figur personel Warpaint.

Rupanya pemberian Jam Tangan dari Wawan sangat berkesan bagi Warpaint, foto jam tangan tersebut diunggah di akun instagram personal milik Jenny (@jennylibrary) dan Stella (@steezmeez). Jenny bahkan mengenakan jam tangan tersebut saat beraksi di atas panggung. It’s a heartwarming moment. Warpaint memiliki banyak penggemar yang sangat loyal dan bahkan cenderung cultish seperti Wawan karena musik mereka yang luar biasa menginspirasi.  Serta attitude mereka yang ramah serta menyenangkan. Mereka layak mendapatkan banyak cinta dari seluruh dunia. Dan Malam itu di parkir Selatan Istora Senayan, Warpaint menyajikan sebuah pertunjukan musik yang luar biasa untuk membalas cinta para penggemarnya di Indonesia.

Warpaint untuk pertama kalinya bermain di Indonesia berkat inisiatif dari Wireitup, sebuah promotor acara musik yang berbasis di Bandung. Wireitup mengutamakan kualitas dan musikalitas dari penampil Internasional yang mereka undang ke Indonesia. Warpaint memenuhi segala kriteria tersebut, karena kuartet asal Los Angeles ini memang produktif mengeluarkan karya hebat, serta sudah pernah mengisi hampir semua event musik besar dunia. Mulai dari Coachella sampai Glastonbury, Warpaint menjadi semakin layak karena mereka juga mempunyai reputasi hebat dalam soal tampil live. Belum lagi memperhitungkan fanbase Warpaint yang lumayan besar di kawasan Asia Tenggara, dimana show mereka pada 17 Februari 2017 lalu adalah satu-satunya pertunjukan di kawasan ASEAN tahun ini.

Khairul Awang dari Malaysia adalah salah satu penggemar Warpaint lainnya yang rela menempuh perjalanan dari Kuala Lumpur ke Jakarta. “Saya datang kesini karena ingin melihat langsung Jenny sweetheart,” ucapnya ketika ditanya tentang apa yang paling ia sukai dari Warpaint. Jenny yang memiliki nama KTP Jennifer Lee Lindberg adalah bassist Warpaint yang berparas cantik dan berperangai riang. Kehadirannya menimbulkan kehebohan tersendiri karena Jenny tercatat memiliki penggemar paling banyak di kalangan fans Warpaint. Sebuah pencapaian hebat karena personel Warpaint yang lainnya pun cantik-cantik layaknya supermodel. Dalam satu sesi Konfrensi Pers di pagi hari sebelum acara berlangsung, Jenny menjanjikan penampilan maksimal dari Warpaint, karena mereka sudah menempuh perjalanan yang teramat jauh. Jenny membuktikan ucapannya bukan sekedar omong kosong pada malam harinya.

Konser ‘Heads Up’ Warpaint diadakan di Parkir Selatan Senayan. Tempat yang sama persis dengan gelaran konser Tame Impala pada 29 April tahun lalu. Memasuki area acara, tepat setelah pintu masuk utama ada photo booth yang penting dalam memenuhi hasrat eksistensi para hadirin. Lalu ada banyak food truck yang siap mengatasi rasa lapar pengunjung, terdapat juga beberapa booth sponsor yang terlihat keren dan menarik. Masuk lebih dalam lagi, panggung berukuran besar dengan kelengkapan sound system yang sangat memadai sudah disiapkan, panggung terlihat sederhana tanpa ada dekorasi yang berlebihan, bagian belakang panggung diisi oleh LED screen yang akan menjadi representasi visual utama, bagian atas disematkan neon box acrylic bertuliskan “WARPAINT HEADS UP TOUR 2017”. Selebihnya ada dua layar besar di kiri-kanan panggung dan vertical banner besar bertuliskan WIRE IT UP! So simple. Rasanya layout panggung yang simpel ini memang disengaja karena Warpaint dikenal memiliki performa yang fokus nan penuh konsentrasi, distraksi berlebih sama sekali tidak diperlukan di sini.

Sebelum Warpaint menginjak panggung, kehormatan untuk tampil diberikan untuk 3 band lokal sebagai mood-booster. Penampil pertama, Trou, sebuah proyek pop dari Bandung, membawakan 4 lagu yang sangat menarik serta enerjik. Diocreatura yang main setelahnya berada di level yang sedikit lebih tinggi. Materi yang dibawakan oleh mereka benar-benar matang dan berkelas. Yang menjadi pembuka terakhir adalah Kimokal. Duo elektronik ini pada malam itu tampil berempat. Kimokal menampilkan musik elektronik yang membahana seakan membelah daratan menjadi dua. Vokal bertenaga dari vokalis anggun Kallula Harsynta Esterlita seakan-akan menjadi highlight utama penampilan mereka malam itu. Tepat di pertengahan penampilannya, Kallula menyatakan bahwa ia menyadari kalau crowd sudah menantikan Warpaint dan memohon maaf karena masih ada dua lagu yang harus dibawakannya. We don’t mind really. Kimokal yang sempurna dalam sajian audio dan visual memang sangat pantas menjadi pembuka Warpaint.

Tepat pukul sembilan malam, Warpaint akhirnya menginjak panggung. Tak pelak para penggemar bersorak kegirangan, masing-masing menyorakkan nama tiap personel kesayangan, Jenny yang hatinya selalu riang melompat-lompat di panggung membalas apresiasi para fans. Para fans yang berdedikasi merasa penantian panjang mereka melihat Warpaint tampil akan segera berakhir. Tak lupa mereka memperhatikan detail dari para pujaan hatinya. Masing-masing personel Warpaint memang tampil dengan atribut yang menggelitik. Jenny mengenakan kaos barong ala Bali, Theresa mengenakan kaos Alien Workshop (90’s kids should be proud!), Emily memakai sendal hotel. Cuma Stella yang tampil lurus tak macam-macam. She’s a badass like that. Seperti biasa, konser Warpaint dibuka dengan combo “Intro” dan “Keep It Healthy”. Pembuka album kedua Warpaint ini memang nomork paling efektif, untuk membuka setlist mereka. Setelahnya beruntun dibawakan “Heads Up” dari album terbaru mereka. “Krimson” yang merupakan tembang lawas disusul hits paling klasik mereka sejauh ini: “Undertow”.

Penampilan Warpaint minim interaksi namun terasa sangat intim. Keempatnya mampu mengemban tanggung jawab dengan sangat cekatan. Duo rhythm Stella dan Jenny adalah perpaduan paling undas. Paduan drum dan bass sangat padat dan ketat. Tanpa celah. Sehingga menampilkan lajur ritme yang sangat solid. Tak salah jika Stella banyak ditanggapi sebagai drummer wanita terbaik saat ini. Sementara ritme bisa terjaga dengan apik, Theresa dan Emily habis-habisan menggarap melodi. Keduanya yang merupakan teman bermain sejak kecil bergantian menjadi lead vocal. Theresa dan Emily merupakan kontradiksi berjalan, Theresa yang berbadan ramping merupakan personifikasi dari kata “seksi”, ia cenderung statis, hanya berdiri di posnya dan secara konsisten selalu terlihat keren. Sementata Emily petakilan ke sana kemari dan tidak malu untuk mengeluarkan gaya dansanya yang sering terlihat konyol dan goofy. Meskipun banyak bergerak, Emily yang lebih banyak menjadi lead vocal dibanding Theresa mampu menjaga kestabilan vokalnya. Keduanya saling melengkapi menjadi kesatuan yang asik.

Beruntun setelah “Undertow” tuntas dibawakan: No Way Out-The Stall-Beetles dan Whiteout. Saat membawakan “No Way Out”, Theresa yang menjadi lead vocal terlihat emosional. “No Way Out” sendiri merupakan lagu yang tak terdapat di ketiga album Warpaint. Pemilihan setlist yang sangat beragam ini juga menjadi salah satu kelebihan Warpaint. Meskipun berasal dari era yang berbeda, semua lagu yang dibawakan terasa koheren. Ada kebingungan tersendiri di antara para penonton, karena cara terbaik mendengarkan Warpaint adalah dengan mata terpejam sambil menghayati setiap nada yang tercipta, tapi kemudian jika menutup mata maka kita tak akan bisa melihat penampilan empat orang atraktif ini. Solusi terbaik adalah dengan menikmati saja apa adanya. Kurang etis juga rasanya merekam penampilan mereka dengan bantuan gawai, karena sisi magisnya tidak akan terasa. This band is majestic.

Empat track yang dibawakan kemudian adalah “Elephants”, hits terbesar mereka “Love is to Die”, lalu hits terbaru mereka yang sangat ngepop “New Song”, dan penutup berupa komposisi apik Disco//very. Warpaint cabut ke belakang panggung setelahnya, tapi kita tahu mereka akan kembali lagi untuk mempersembahkan encore. Dua lagu yang menjadi penutup sungguhan adalah “So Good” dan “Bees”. Sebenarnya dalam setlist ada pula track Billie Holiday yang urung dibawakan karena masalah teknis. Belasan lagu yang dibawakan malam itu merupakan pemuas dahaga para hipster muda yang kini tersenyum puas setelah mereguk nikmatnya penampilan Warpaint. Aransemen dari setiap lagu yang mereka bawakan tidak selalu sama dengan yang terdapat di album. Ini kekuatan lainnya dari Warpaint, mereka selalu berkembang lebih baik setiap saatnya, dan konon tidak pernah ada pengalaman yang sama persis setiap kali menonton mereka manggung.

Warpaint  selalu berevolusi, they just keep getting better. Buktikan hal ini jika suatu saat ada kesempatan menyaksikan mereka manggung lagi. Yang jelas malam itu semuanya sepakat kalau Warpaint telah menepati janji mereka dengan menampilkan yang terbaik. Janji Jenny terlunasi. Wawan dan Khairul bisa pulang ke kota/negara asal mereka dengan hati yang puas serta kenangan yang tak terlupakan. Wireittup selaku penyelenggara juga patut bangga dengan debut yang mengesankan ini. Sampai berjumpa lagi di kesempatan lain.

[]

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Rhesa Arisy

Rhesa Arisy

CEO at Undas.Co
Pada suatu hari Rhesa Arisy membaca buku biografi Steve Jobs dan mendapati fakta bahwa orang itu adalah pecundang yang kuliahnya tidak selesai, namun berhasil membangun sebuah perusahaan yang sangat sukses bernama Apple. Terinpirasi fakta tersebut Rhesa Arisy pun memberanikan diri untuk berhenti kuliah di semester 13. Apakah lantas ia bisa menjadi sesukses Steve Jobs? Nope. Not at all. Ia cuma bisa jualan produk Apple dan jadi penulis kontributor di Situs humor terbesar di Indonesia. But Now Rhesa Arisy trying harder to be a Succesful College Dropout like Steve Jobs, dengan menjadi founder dan leader dari sebuah startup company yang punya kepedulian terhadap kemajuan kotanya yang konon diisi orang-orang terkeren di kota tersebut. Undas!

Comments

comments