5 + 17 =

12 − twelve =

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Melanjutkan kemeriahan gelaran Jakcloth Goes to Samarinda di hari ketiga. Ditutup secara sukses! Ketika ribuan manusia tumpah ruah dan mengguncang lapangan parkir GOR Segiri.

Jakcloth Goes to Samarinda memasuki hari ketiga sekaligus hari terakhir gelarannya. Seperti hari-hari sebelumnya pintu masuk sudah dibuka mulai pukul 2 siang. Tampaknya aliran pengunjung siang itu masih kurang signifikan untuk ukuran akhir pekan. Maka kami pun berkeliling di venue untuk menemui pengunjung dan meminta testimoni mereka soal gelaran skala nasional ini.

Sebagian pengunjung yang kami minta testimoninya mengaku menyambut antusias acara ini. Bahkan untuk sejumlah pengunjung yang hanya iseng berkunjung, karena GOR Segiri selama tiga hari itu menjadi magnet keramaian di pusat kota. Mengingat jenis acara berbayar seperti ini baru pertama kali dilangsungkan di Samarinda. Menggabungkan talenta lokal dan nasional dari sektor industri kreatif, dimana musik dan fesyen menjadi motor penggeraknya. Plus deretan musisi nasional yang cukup banyak dalam satu panggung.

Gelaran ini memang menyasar pengunjung muda-mudi yang punya unsur ketertarikan dengan fesyen street wear/apparel dan musik tentunya. Dan selama dua hari berada di lokasi, kami menyadari ada segementasi antara pengunjung yang hanya untuk menikmati sajian musik, dan hanya mengincar harga miring dari para tenant. Beragam tawaran harga miring yang kerap dijumpai adalah buy 1 get 1. Atau dengan harga Rp 150 ribu pengunjung bisa mendapat dua potong pakaian. Dan juga ragam tawaran menarik seperti sepotong kemeja flannel seharga Rp100 ribu, dan dibandrol Rp180 ribu untuk dua potong. Pun begitu dengan beberapa jaket bomber dan celana. Dengan bekal Rp300 ribu pengunjung bisa mendapatkan atasan dan bawahan asal cermat dengan tawaran yang ada.

Rischa, Ruffus

Selain jual beli, beberapa booth sponsor juga ramai dikunjungi. Terutama Samsung yang menghadirkan bermacam titik aktivasi, mulai dari games seru hingga photo booth yang dipenuhi antrian. Di dekat pintu masuk pengunjung yang mau mendonorkan darahnya bisa menuju ke booth PMI yang memberikan angin segar dari sejumlah AC portable. Yap booth ini termasuk favorit sejumlah orang untuk berteduh sementara sembari membantu sesama. Setelah puas berkeliling kami menuju ke area panggung utama yang memulai aktifitasnya. Penampil pertama sore itu adalah Candy Cat yang membuka panggung utama Jakcloth Goes to Samarinda.

Selanjutnya veteran indie pop asal Samarinda, Pencil mengisi sebagai penampil kedua. Terhitung lama tidak melihat mereka tampil di publik, penampilan mereka layak diapresiasi di Jakcloth Goes to Samarinda ini. Berbeda dengan hari pertama yang diselimuti awan mendung dan sempat turun hujan, hari kedua yang cerah berawan, hari penutupan Jakcloth Goes to Samarinda malah terbilang terik. Lumayan menyiksa untuk bisa betah berdiri lama-lama sore itu. Dan sepanjang tiga hari ini, pemandangan baris depan penikmat musisi lokal tampak memprihatinkan.

Jiva, asal Bontang yang sore itu membawa aransemen pop alternative memberi warna yang berbeda. Karakter ambience dalam aransemen pop-nya terpancar dari seperangkat pengeras suara. Selanjutnya, Misery of Blood yang juga berasal dari Bontang membawa suasana 180 derajat dengan gempuran deathcore-nya. Kemudian Kawanan Rastaman yang juga dari Bontang menyusul kawan-kawan mereka di urutan selanjutnya dengan alunan reggae dan rock steady. Pemandangan yang menarik tiga genre, tiga karakter pendengar yang berbeda. Dan mereka datang jauh-jauh ke Samarinda membawa keriangan yang berbeda pula. Mereka juga membawa sejumlah CD kompilasi musisi Bontang yang memetakan perkembangan skena musik di sana.

Ruffus

Sebagai penampil terakhir di slot lokal adalah Ruffus. Unit thrash metal asal Tenggarong yang mencuri perhatian skena musik lokal. Selain cabikan gitar berderu cepat yang in your face, pemandangan si gitaris Rischa menjadi poin menarik sore itu. Sepanjang break, kami kembali berkeliling, aliran massa mulai terlihat secara drastis. Antrian dan pergerakan menuju panggung utama dengan beragam atribut mulai memadati lapangan parkir GOR Segiri. Serupa seperti hari kedua yang tak menyisakan ruang untuk berdiri berjejal, para pengunjung sepertinya sudah siap untuk berpesta malam itu.

Tepat pukul 8 malam panggung utama kembali diramaikan oleh para MC, sementara di latar sejumlah kru menyiapkan penampilan Gangstarasta. Tak lama kemudian Gangstarasta naik menyapa pengunjung. Layaknya festival musim panas, lautan manusia yang tumpah ruah malam itu langsung bersorak riuh dengan nomor 3G yang dibawakan Adit cs. Disusul dengan nomor-nomor Selebriti, Fly away, Just in Case, Hilang, Langkah, Kebebasan, Seharusnya, dan Unity.

Selama tiga hari kami perhatikan, dansa dan koor berjamaah ribuan pengunjung tak pelak menjadi pemandangan yang menjanjikan bagi para promotor lokal yang mau berkaca dari gelaran ini. Patut dicermati hiburan dengan menghadirkan musisi alternatif diluar top 40 nasional, bisa memancing massa begini besarnya. Apalagi untuk HTM yang bebayar. Mungkin sudah saatnya kami para penikmat konser musik Samarinda, tidak lagi dijejali dengan penampilan generik para artis nasional yang sudah terlanjur menjemukan.

Alunan rock steady dan sedikit jamaican roots secara garis besar mampu menghidupkan suasana malam itu. Bentangan spanduk dan bendera yang dibawa pengunjung dari penjuru kota di Kalimantan Timur menjadi momen yang layak diabadikan lewat lensa kamera. Terlebih para penampil yang tampil mampu menghidupkan suasana lewat komunikasi dan gimmick menghibur. Dengan Reggae Disco dilontarkan ke telinga pengunjung, Gangstarasta menutup penampilannya. Puas dengan dansa dan euforia tepi pantai giliran Killing Me Inside yang naik panggung selanjutnya.

Ayu Ratna (Eks Garasi) menjadi vokalis KILMS malam itu menggantikan Vira Razak

Killing Me Inside atau yang kerap disebut KILMS, unit metalcore/screamo asal Jakarta ini langsung menyapa Street Team (sebutan fans KILMS). Minus kehadiran Vira Razak yang malam itu digantikan oleh Ayu Ratna (eks Garasi) di posisi vokal. Bergantian dengan Josaphat dan Rudye yang mengisi backing/screaming vocal, Ayu mengajak pengunjung Jakcloth menyanyi bersama di Moving On. Tak hanya nomor-nomor KILMS yang membawakan materi hitsnya. KILMS dan Ayu juga membawakan nomor-nomor Garasi, Kau dan Aku Berbeda  dan Hilang. Sebagai penutup mereka membawakan Young Blood, yang merupakan nomor dari album Rebirth: A New Beginning selepas Onad hengkang dari KILMS. Patut diperhatikan sehari sebelumnya Onad tampil sebagai pemuncak sebagai penampil yang membawakan materi EDM.

DJ Yasmin

Tiba di puncak acara, DJ Yasmin mengisi sebagai pemuncak acara. Membuka penampilannya dengan breakcore, disambut lautan ribuan manusia yang langsung berdansa liar. Aksi massa yang serentak ini membuat gelombang vibrasi yang kentara di depan panggung. Euforia massal tak lepas dari kepiawan Yasmin menyusun materi playlist-nya, menggabungkan breakbeat, house, hiphop, trap untuk terus memancing pengunjung lebur bersama keringat dan gerah malam itu. Tak hanya sekali dua kali dansa meriah pengunjung bisa disaksikan. Hingga fase cooling down, Yasmin masih menggeber BPM-nya. Dan barisan depan barikade pun bisa merasakan vibrasi lantai aspal yang mereka pijak, akibat aksi ribuan massa yang berdansa dengan gembira.

Menjelang pukul 11 malam, Yasmin pun mengakhiri aksinya dengan mengabadikan momen tersebut dengan swafoto dengan latar lautan manusia di belakangnya. Secara garis besar pihak penyelenggara sudah mampu memberikan suguhan meriah. Pun sambutan para pengunjung yang secara konsisten memenuhi venue dan mau membayar HTM patut diacungi jempol. Sudah sepantasnya Samarinda membutuhkan open air festival dengan kurasi para penampil yang cermat semacam ini. Well, selamat bagi para penyelenggara dan para peserta tenant yang mendukung acara ini. Kalian menorehkan sejarah baru untuk industri hiburan kota ini! See you and we want more!

[]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
The following two tabs change content below.
Alfian Meidianoor

Alfian Meidianoor

Editor in Chief at Undas.Co
Cat buff yang tertarik dengan semua hal yang berkaitan dengan gothic romanticism, benda langit dan fisika modern, zombie apocalypse, rilisan analog dan skena D.I.Y yang lebih aktif.

Comments

comments